Penemuan yang Mengubah Dunia: Kemoterapi, Dulu Senjata Perang Dunia I - Kompas.com

Penemuan yang Mengubah Dunia: Kemoterapi, Dulu Senjata Perang Dunia I

Kompas.com - 11/10/2018, 20:33 WIB
Seorang pasien di NSW, Australi, menjalani kemoterapi selama enam bulan karena salah diagnosa. 
ABC News Seorang pasien di NSW, Australi, menjalani kemoterapi selama enam bulan karena salah diagnosa.

KOMPAS.com - Meninggalnya istri Indro Warkop, Nita Octobijanthy akibat kanker paru mengingatkan kita kembali tentang ganasnya penyakit ini.

Tak hanya Nita, kanker juga menyerang banyak tokoh publik. Sebut saja Sutopo Purwo Nugroho, kepala Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang sedang melawan kanker paru.

Tokoh lain seperti Yana Zein, Julia Peres, Budi Anduk, dan banyak lagi juga mengidap kanker.

Ketika berbicara kanker, kita juga membahas pengobatan. Salah satu pengobatan yang paling terkenal melawan kanker adalah kemoterapi.

Namun, siapa sangka pengobatan ini tidak ditemukan di rumah sakit atau laboratorium. Ya, kemoterapi justru ditemukan dalam sisa-sisa perang.

Tepatnya pada Perang Dunia I, para ahli kimia perang menyadari bahwa mayat para personel angkatan laut yang terpapar gas mustard selama aktivitas militer memiliki perubahan beracun dalam sel sumsum tulang yang berkembang menjadi sel darah.

Pada perang besar itu, gas ini digunakan dalam bom mustar nitrogen yang setara dengan 100 ton racun. Bom tersebut disimpan diam-diam dalam sebuah kapal AS yang berlabuh di pangkalan milik Italia.

Saat kapal ini diledakkan, muatan rahasia itu ikut meledak. Hasilnya, terjadi banyak kematian dan penderitaan.

Ketika para ahli kimia melakukan analisis post-mortem, mereka menemukan orang yang mati akibat paparan racun tersebut memiliki sel getah bening dan sumsum tulang sedikit.

Padahal, sel-sel tersebut biasanya berkembang biak sangat cepat.

Baca juga: Efektifkan Kemoterapi, Pasien Kanker Disarankan Berolahraga

Pada masa tersebut, kanker masih sebuah teka-teki besar. Tapi satu hal yang mereka ketahui, sel kanker memiliki sifat seperti sel getah bening dan sel sumsum tulang yaitu berkembang biak dengan sangat cepat.

Dari temuan tersebut, para ilmuwan mulai berpikir: apakah gas mustar nitrogen dosis rendah mungkin bisa mengobati kanker.

Pemikiran tersebut melahirkan kemoterapi yang kita kenal saat ini.

1940, perawatan awal menggunakan cara ini adalah seorang pengidap kanker limfoma. Saat itu pasien diobati dengan siklofosfamid, bagian aktif dari mustar nitrogen.

Hasilnya, tumor pasien tersebut menyusut. Ini menjadi kabar gembira dalam dunia kedokteran.

Pengunaan mustar nitrogen untuk kanker limfoma mendadak populer di Amerika Serikat pada 1946. Kepopuleran ini mengikuti publikasi artikel ilmiah di negara tersebut.

Sayangnya, perawatan ini dihentikan tak berselang lama karena terjadi efek samping yang mengancam jiwa pasien.

Kegagalan ini membuat para ilmuwan terus bekerja mencari alternatif baru. Pada 1948, Sidney Farber dari Harvard Medical School menemukan alternatif baru yaitu aminopterin.

Aminopterin sendiri merupakan senyawa yang terkait dengan vitamin asam folat. Senyawa ini menghasilkan remisi pada anak-anak leukimia akut.

Aminopterin memblokir reaksi kimia kritis yang diperlukan untuk replikasi DNA. Obat itu menjadi pendahulu methotrexate, obat pengobatan kanker yang biasa digunakan sekarang.

Baca juga: Pengidap Kanker Payudara dan Paru-paru Tak Perlu Kemoterapi, Asal...

Sejak saat itu, peneliti lain menemukan obat yang menghalangi fungsi berbeda dalam pertumbuhan sel dan replikasi. Era kemoterapi pun dimulai.

Sekitar tahun 1950-an, Eli Lily menemukan bahwa alkaloid dari ekstrak tanaman Vinca rosea bermanfaat bagi pasien kanker.

Hal itu membuat alkaloid vinca mulai dikenal sebagai agen anti kanker di media 1960-an. Alkaloid yang dimaksud salah satunya adalah vinblastin untuk mengobati leukimia pediatrik.

Pertama kali kemoterapi dilaporkan bisa menyembuhkan banyak pasien terjadi pada tahun 1960-an. Sejak itu, selama bertahun-tahun, obat kemoterapi telah berhasil mengobati banyak orang dengan kanker.

Setelahnya, obat kanker testis terlihat selama dekade berikut. Banyak kanker lainnya dapat dikendalikan dengan kemoterapi untuk jangka waktu yang lama, bahkan jika mereka tidak sembuh.

Selama dua dekade berikutnya, rejimen (perawatan) kemoterapi kombinasi mulai mendapatkan popularitas. Penggunaan bersamaan obat-obatan dengan mekanisme tindakan yang berbeda menyebabkan peningkatan lebih lanjut dalam kelangsungan hidup pasien dan penurunan tingkat kematian, yang telah menurun setiap tahun dari tahun 1990 hingga sekarang.

Penurunan tingkat kematian ini disebabkan oleh deteksi dini dan pengobatan dengan agen kemoterapi.

Meski begitu, para ilmuwan tidak lantas berbangga. Mereka terus menciptakan inovasi, terutama terkait meningkatkan aktivitas dan mengurangi efek samping kemoterapi.

Kanker sendiri hingga saat ini masih menjadi musuh manusia yang penuh teka-teki. Apalagi " tidak ada obat" untuk kanker karena penyakit ini sangat berbeda dengan penyakit pada umumnya.


Close Ads X