Malas Cuci Tangan Juga Bisa Timbulkan Kematian

Kompas.com - 15/10/2018, 14:43 WIB
Para siswa SDN Rawa Barat 05 Jakarta Selatan ketika menjalankan aktivitas cuci tangan dalam rangka memperingati Hari Cuci Tangan Sedunia yang diperingati setiap 15 Oktober.KOMPAS.com/Nabilla Tashandra Para siswa SDN Rawa Barat 05 Jakarta Selatan ketika menjalankan aktivitas cuci tangan dalam rangka memperingati Hari Cuci Tangan Sedunia yang diperingati setiap 15 Oktober.

JAKARTA, KOMPAS.com - Tepat hari ini pada 15 Oktober, seluruh dunia memperingati Global Handwashing Day (GHD) atau Hari Cuci Tangan Sedunia.

Namun, ternyata masih banyak masyarakat yang belum terbiasa rajin mencuci tangannya. Misalnya, sebelum dan setelah makan, setelah keluar kamar mandi, dan melakukan aktivitas lainnya.

"Data menyebutkan, masyarakat di atas 10 tahun yang punya kebiasaan cuci tangan masih di bawah 50 persen."

Hal itu diungkapkan Kepala Sub Direktorat Usia Sekolah dan Remaja Kementerian Kesehatan, Wara Pertiwi Osing saat menghadiri peringatan Hari Cuci Tangan Dunia yang diselenggarakan oleh Lifebuoy di SDN Rawa Barat 05 Jakarta, Senin (15/10/2018).

Padahal, kebiasaan cuci tangan merupakan bagian dari hidup bersih dan sehat karena tangan adalah media utama penyebaran kuman penyakit.

Apalagi saat ini bakteri semakin beragam dan kian kebal obat.

Kebiasaan cuci tangan bisa mulai dibiasakan pada lingkup terkecil, yaitu keluarga. Tanamkanlah pada anak untuk biasa mencuci tangan sebelum dan sesudah beraktivitas.

"Dengan membiasakan kegiatan sederhana cuci tangan pakai sabun kita akan berkontribusi besar terhadap pencegahan penyebaran penyakit dan ini sangat penting untuk kesehatan masyarakat kita," tuturnya.

Adapun salah satu penyakit yang timbul akibat malas mencuci tangan adalah diare. Bahkan, Wara menuturkan, diare merupakan penyakit nomor satu pembunuh balita.

Baca juga: Waspadai Benda-Benda di Kantor yang Menyimpan Kuman

Sementara untuk usia dewasa, penyakit umum seperti flu, batuk, hingga sesak nafas adalah yang paling umum terjadi.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Perssi), Kuntjoro Adi Purjanto mengatakan, risiko penularan penyakit lewat tangan sangat tinggi.

Bahkan, infeksi nosokomial bisa membuat orang yang sudah sakit menjadi tambah sakit meski sudah dirawat di rumah sakit.

Infeksi nosokomial sendiri adalah infeksi yang menyebar di dalam rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

Pasien yang dirujuk ke rumah sakit memiliki risiko terkena pengembangan infeksi penyakit, mulai dari infeksi aliran darah, pneumonia, infeksi saluran kemih, dan infeksi tempat operasi. Namun, hal itu tergantung lokasi rumah sakit yang dirawat dan jenis prosedur yang dijalani.

Sangking pentingnya, mencuci tangan bahkan lebih diutamakan jika akan masuk ke ruang ICU ketimbang menggunakan jubah.

"Penularan tertinggi infeksi itu di tangan. Permasalahannya, apakah ada yang menimbulkan sakit kronis? Banyak," kata Kuntjoro.

Sabun dan air mengalir

Mencuci tangan adalah cara sederhana dan efektif untuk mencegah penyakit, bahkan menyelamatkan jiwa.

Kita cukup mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir bersih. Bersihkan hingga ke sela-sela jari.

Setelah mencuci tangan, jangan lupa untuk mengeringkannya dengan tisu, handuk bersih atau menggunakan pengering tangan.

Sebab, kondisi tangan yang lembap juga bisa menjadi tempat berkembangbiak kuman.

"Jangan juga dilap ke baju atau handuk yang tidak diganti-ganti karena bisa saja penularan penyakit," kata Wara.

Namun, ketika berada pada lokasi yang sulit air bersih, kita bisa saja menggunakan tisu basah atau hand sanitizer terlebih dahulu.

"Tisu basah yang mengandung antiseptik itu juga bisa, walaupun tidak semaksimal cuci tangan pakai sabun," ujarnya.

Halaman:



Close Ads X