Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jumlah Sperma Terus Menurun dan Alasan Pria Harus Peduli

Kompas.com - 19/10/2018, 08:29 WIB
Kahfi Dirga Cahya,
Lusia Kus Anna

Tim Redaksi

Sumber

KOMPAS.com - Pasangan Avradeep dan Emma bertemu pada tahun 2010, ketika mereka berdua berusia awal 30-an dan tinggal di Bristol, Inggris. Karena ingin membangun keluarga, mereka mulai mencoba untuk hamil dalam satu tahun hubungan mereka.

Namun, setelah berbulan-bulan usaha mereka tidak membuahkan hasil. Keduanya pergi ke dokter dan melakukan pemeriksaan dengan serangkaian tes darah, serta analisis sperma untuk Avradeep.

Beberapa pekan kemudian hasilnya keluar. Ternyata, alasan Emma gagal hamil karena kesuburan Avradeep terganggu. Yaitu ia tidak memiliki sperma.

Pada akhirnya, pasangan ini memilih sperma donor dan mereka kini sudah memiliki bayi.

"Pistol" yang kosong

Dalam sepertiga kasus infertilitas, penyebabnya ada pada pihak pria. Meskipun sudah ada kemajuan dalam ilmu kedokteran, beberapa penelitian menunjukkan masalahnya kian memburuk.

Sebuah penelitian yang diterbitkan tahun lalu, misalnya, mengungkapkan di antara pria dari Amerika Utara, Eropa, Australia, dan Selandia Baru, jumlah sperma menurun lebih dari setengah dalam waktu kurang dari 40 tahun. 

Satistik ini merupakan ancaman luas terhadap kesuburan pria dan kesehatan reproduksi—dalam hal kuantitas dan kualitas sperma.

Menurut Sheena Lewis, profesor kesehatan masyarakat, sperma—baik dari sisi kuantitas dan kualitas—memiliki pengaruh penting pada kesehatan masyarakat.

Sperma yang buruk bisa dianggap berarti kesehatan yang buruk.

Masalah kesuburan bisa terkait berbagai indikator kesehatan, seperti pembuluh darah dan jantung, kesehatan mental, dan mengurangi harapan hidup.

karena itu, pria perlu lebih peduli soal kesuburan. Bukan hanya menyebabkan sulit hamil, kualitas sperma yang buruk juga memengaruhi kesehatan bayi yang lahir.

Baca juga: Bayi Tabung, Upaya demi Menimang Buah Hati

Kurangi merokok

Produksi sperma di tubuh pria, bisa dianalogikan seperti jalur perakitan di pabrik mobil.

“Jika ada kesalahan sedikit, maka hasil akhir tidak akan sebagus yang direncanakan. Begitu juga dengan sperma, jika ada satu enzim yang hilang, satu protein yang kurang tepat, maka tergantung di mana di jalur produksi, itu akan mempengaruhi hasil akhirnya,” kata pakar kesuburan Tim Child.

Menurut Lewis, masalah perakitan ini dapat dihubungkan dengan pola makan dan gaya hidup.

Gaya hidup tidak sehat seperti konsumsi makanan tinggi lemak, minum alkohol, dan kegemukan, akan meningkatan risiko berkurangnya jumlah sperma dan merusak DNA. 

Polutan lingkungan hingga paparan bahan kimia seperti pestisida juga berkontribusi pada jumlah sperma yang rendah.

Ilustrasi merokok dan minum minuman beralkoholSteve Mason Ilustrasi merokok dan minum minuman beralkohol

 Penyebab utama lain gangguan kesuburan pada pria adalah varikokel — yaitu, gumpalan varises di testis. 

"Ini mengarah pada pembengkakan darah yang memanaskan testis," kata embriologis klinis Sheryl Homa. 

Suhu testis yang terlalu tinggi dapat menghancurkan perkembangan sperma.

"Pria menghasilkan sperma baru setiap 70 hari. Jadi, jika mengubah gaya hidup hanya selama tiga bulan, maka mungkin dapat meningkatkan kualitas sperma,"  kata Lewis.

Perubahan ini seperti mengurangi alkohol dan rokok. Menjaga berat badan yang sehat melalui diet dan olahraga yang baik juga dapat membantu meningkatkan kualitas dan kuantitas sperma.

Selain itu, hindari panas di area organ intim pria yang disebabkan oleh celana pendek ketat, laptop, sering bersepeda, atau berendam dalam waktu lama di pemandian air panas.

Baca juga: Tes Kesuburan yang Perlu Dilakukan Pria dan Wanita

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Sumber
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com