Trik Bedakan Sepatu Kulit Murah, Mahal, dan Berkualitas

Kompas.com - 30/10/2018, 12:00 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi

KOMPAS.com - Orang awam mungkin akan menilai setiap sepatu sama saja, atau setidaknya tak jauh berbeda.

Padahal, sepatu kulit yang harganya mencapai jutaan atau belasan juta Rupiah tentu saja berbeda dengan sepatu kulit di bawah Rp 1 juta.

Menurut Gabi Levi (founder label sepatu Eve & Kane) dan Kaz (founder label penyedia sepatu custom kulit Jepang pertama ke pasar Australia), ada beberapa hal yang bisa diperhatikan ketika kita mencari sepatu kulit berkualitas.

1. Fleksibilitas kulit dan suede

Semakin lembut bahan kulitnya, maka akan semakin nyaman dipakai di kaki.

Namun, bahan kulit yang lembut tidak akan seawet bahan kulit dengan konstruksi tebal yang harganya juga bisa lebih murah.

Baca juga: Keds Bangun Kepercayaan Diri Perempuan Lewat Sepatu...

2. Bau di dalam sepatu

Cobalah cium bagian dalam sepatu. Jika baunya seperti lem, maka kemungkinan besar sepatu tersebut dibuat dengan proses yang murah (dilem), ketimbang dijahit.

3. Bau kulit

Selain bagian dalam, cobalah cium bahan kulit itu. Bahan kulit yang berkualitas akan berbau seperti kulit berkualitas tinggi (bukan kulit sintetis).

4. Sol

Sol adalah komponen vital sebuah sepatu. Kaz menjelaskan, sepatu kulit mahal seringkali memiliki bagian-bagian tersembunyi di mana kita tidak bisa melihat area terjahit pada bagian bawah sepatu.

5. Kelas kulitnya

Kulit berkualitas tinggi pastinya akan lebih awet dan bertahan pada bentuknya. Apalagi jika sepatu dibentuk seperti loafer.

6. Rasakan bagian dalam

Kita tidak bisa mengetahui kenyamanan sepatu tanpa mencobanya. Jadi, cobalah pakai sepatu tersebut.

Rasakan kenyamanan sol bagian dalamnya (inner sole). Bagian ini akan menentukan seberapa nyamannya sebuah sepatu.

Sepatu yang lebih berkualitas tentu memiliki kenyamanan lebih.

Sepatu mahal akan memakai sol yang lebih berkualitas, dan didesain agar tiga kali lebih awet daripada sepatu kulit biasa.

Baca juga: Kaum Pria Harus Paham, 10 Kiat Padu Padan Jins dan Sepatu

Sepatu kulit kualitas buruk

Nah, sebelumnya kita mendapatkan tips cara mencaritahu sepatu kulit yang berkualitas. Tapi, adakah cara untuk mengetahui kualitas sepatu kulit yang buruk?

Levi menjelaskan, untuk loafer atau driver shoes kulit, penting untuk mengecek apakah bahan sepatu tersebut sangat tipis.

Jika terlalu lembut dan fleksibel, meskipun nyaman tapi sepatu tersebut tidak awet dan bentuknya pun tak akan bertahan lama.

Secara visual, kamu bisa mengecek soliditas jahitannya, konsistensi jarak jahitnya dan kedalaman jahitan.

Buatan tangan atau mesin?

"Ada persepsi bahwa jahitan tangan punya kualitas yang lebih baik. Aku pribadi berpikir jahitan mesin punya presisi yang lebih baik, dan jahitannya sendiri lebih kencang sehingga lebih awet," kata Levi.

Jahitan tangan bisa lebih mahal karena sepatu tersebut langsung dijahit oleh pembuat sepatu. Namun bukan berarti kulitasnya bisa lebih baik.

Beberapa sepatu jahitan tangan asal Italia dan Portugal tidak terlihat bagus karena terlihat ketidaksempurnaannya.

Beberapa orang menyebutnya "karakter", namun aku pribadi lebih baik memilih jahitan mesin. Sebab jika kamu punya uang, tentunya kamu akan memilih yang lebih presisi."

Namun Kaz mempunyai pendapat yang berbeda.

Baca juga: Cara Mudah Merawat Sepatu Kulit

"Jahitan tangan membuat sepatu kulit menjadi lebih lembut dan nyaman. Itulah mengapa aku lebih menyukainya.

Tapi, pertanyaannya adalah kualitas jahitan. Apakah jahitannya lurus atau bengkok?

Para pembuat sepatu dari Italia mungkin mengatakan ketidaksempurnaan adalah karakter.

Tapi, orang Jepang akan mengatakan itu kegagalan dan akan mengulanginya lagi.

"Aku rasa jahitan tangan lebih baik karena ada kontrol pada ketegangan jahitan," sebut dia.

Lokasi pembuatan

Apakah asal sepatu menjadi penting ketika kita mencari kualitas?

Baik Levi maupun Kaz mengingatkan agar kita jangan membeli sepatu hanya berdasarkan merek.

Italia memang mempunyai reputasi baik dalam membuat sepatu kulit berkualitas, namun pembeli sebaiknya tidak terkecoh dengan label "sepatu buatan Italia".

Sebab, kata Levi, hal ini bergantung pada pabrik pembuat sepatu.

Di Milan, Italia sendiri, ada pabrik sepatu yang baik dan buruk. Sama halnya dengan sepatu buatan Portugal atau China.

"Hal itu tergantung dengan pengalaman label sepatu itu sendiri, lokasi pembuatan tidak terlalu penting," katanya.

Kaz berpendapat senada. Melihat sepatu kulit tak melulu harus melihat negara asal pabrik. Hal itu berlaku bagi pakaian dan bahan kulit itu sendiri.

Meski berlabel "buatan China", Kaz tak akan langsung tidak menyukainya karena sejumlah produk China pun mengalami perbaikan kualitas setiap waktu.

Terkait sepatu kulit buatan Italia yang terkenal berkualitas baik, menurut dia, hal itu hanya sekadar tren atau hype yang terlalu tinggi.

"Jika orang bilang sepatu kulit asal Italia selalu lebih bagus, aku pun pernah menemukan yang buruk dan mengecewakan," ujar dia.

Proses konstruksi

Ketika menilai kualitas sepatu dari negara asal pembuatannya tak terlalu penting, ada gaya konstruksi dari negara-negara tertentu yang kerap diadopsi oleh para pembuat sepatu kulit.

Founder Harrolds, Ross Poulakis mengatakan, berinvestasi pada sepatu yang timeless alias tak termakan waktu adalah hal kunci.

"(Metode) goodyear welt, lukis tangan, jahit tangan, dan kulit kualitas premium adalah teknik umum yang menggambarkan keahlian dalam membuat konstruksi alas kaki premium," kata dia.

Sementara Co-Founder Double Monk, Nick Schaerf mengatakan, sepatu berkualitas akan pas di kaki ketika digunakan dan memberikan dukungan yang nyaman terhadap kaki.

Kebanyakan sepatu asal Italia, menurut dia, dibuat dengan metode blake stitch, untuk berjalan di ruangan tertutup ketimbang untuk mobilitas tinggi dan digunakan berhari-hari.

Schaerf menilai, ketahanan sepatu buatan Inggris memang masih tak terkalahkan, sebab mereka memiliki dasar pembuatan sepatu boot militer. Perbaikan juga terus dilakukan setiap waktu.

Baca juga: Pilihan Sepatu Kulit yang Bisa Dicuci atau Diinjak Bagian Belakangnya

Sementara itu, Kaz mengatakan, pembuatan sepatu Jepang dan Inggris menurut dia, hampir sama, menggunakan metode goodyear welt.

Membuat sepatu dengan metode tersebut bisa mencapai lebih dari 200 tahap, namun menghasilkan sepatu yang cenderung lebih awet meski lebih mahal.

Sepatu dengan metode tersebut, kata dia, bisa diperbaiki dan dijahit kembali dengan jumlah tak terbatas.

"Sepatu yang direkatkan cenderung tidak mahal, namun kita bisa memperbaikinya. Meski begitu, itu tergantung pada bagaimana kita memakainya," kata Kaz.

Sementara sepatu kulit mahal buatan Italia seringkali menggunakan metode blake stitch. Sepatu tersebut bisa diperbaiki namun hanya 2-3 kali saja.

Namun, metode tersebut membuat sepatu buatan Italia lebih ringan. Dengan kata lain, sepatu ini lebih kepada fesyen, bukan untuk pemakaian sehari-hari.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber DMarge
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X