Tips Termotivasi Olahraga dari Para Pelatih Kebugaran - Kompas.com

Tips Termotivasi Olahraga dari Para Pelatih Kebugaran

Kompas.com - 03/11/2018, 17:08 WIB
Ilustrasi olahragabernardbodo Ilustrasi olahraga

KOMPAS.com - Niat untuk berolahraga seringkali gagal diwujudkan karena kita lebih mementingkan kegiatan lain yang dianggap lebih menyenangkan. Intinya, banyak orang malas olahraga karena kurangnya motivasi.

Bukan hanya kita, ternyata para pelatih pribadi juga tak luput dari rasa malas untuk berolahraga.

Lalu, bagaimana cara mereka mempertahankan semangat untuk rutin berolahraga dan membuat para klien mereka juga termotivasi?

Chris Matsui, pelatih kebugaran, tak menampik terkadang ia juga malas ke gym, namun ia menyadari bahwa absen berolahraga membuat kebugarannya turun.

"Meskipun merasa lelah atau malas, saya selalu menargetkan diri pergi ke gym setiap tiga kali seminggu," ungkapnya.

Menurutnya, semua jenis olahraga sangat baik untuk tubuh kita, bahkan jika itu bukanlah latihan terbaik kita.

"Ini tidak berarti setiap olahraga akan bekerja maksimal. Tapi, itu cukup untuk berkeringat dan membuat tubuh saya merasa lebih baik," katanya.

Matsui sering mengingatkan kliennya untuk melakukan olahraga singkat sekitar 20 hingga 30 menit. Walau durasinya sebentar, tapi bisa memberi efek positif jangka panjang.

“Tidak semua orang memiliki waktu untuk olahraga 90 menit setiap hari, jadi manfaatkan dan lakukan apa yang kita bisa lakukan sampai kita memiliki lebih banyak waktu luang,” sarannya.

Olahraga hanya sekitar dua menit juga mampu membuat perbedaan. Riset dari Victoria University, Australia, membuktikan latihan intensitas tinggi dalam dua menit sama efektifnya dengan setengah jam olahraga intensitas sedang.

Sementara itu, Benji Tiger, seorang pelatih pribadi dari Florida, menggunakan penampilan fisik para influencer di media sosial sebagai motivator utamanya.

Ia mengaku ingin memiliki tubuh seperti orang-orang yang jadi inspirasinya di media sosial.

Meski telah mencapai tujuannya, Tiger masih menggunakan media sosial sebagai motivator untuk menjadi lebih baik.

Baca juga: Terlalu Sering Olahraga Kardio Ternyata Tidak Baik untuk Kesehatan

Studi tahun 2015 membuktikan pengaruh media sosial dapat memotivasi orang untuk lebih rajin berolahraga.

Agar klien tetap termotivasi, Tiger mengingatkan seberapa besar usaha dan kekuatan mereka yang semakin meningkat.

"Jika mereka merasa tidak ingin olahraga atau tak mengalami kemajuan, saya meminta mereka melakukan olahraga yang dirasa sulit saat mereka pertama kali memulai olahraga," katanya.

Menurut Tiger, hal tersebut berfungsi sebagai motivasi karena menjadi bukti kemajuan yang telah mereka buat.

Dia juga merekomendasikan untuk mencari teman yang memiliki motivasi sama untuk berolahraga saat mereka tak bisa berolahraga dengan pelatih.

"Itu bisa membuat olahraga lebih menyenangkan," katanya.

Menurut pelatih pribadi bernama Rob Arreaga, untuk menjaga motivasi dalam berolahraga, ia kerap mengingatkan dirinya untuk menjadi lebih baik daripada hari kemarin.

"Bahkan dorongan kecil itu sudah cukup untuk membuat saya rajin berolahraga," ucapnya.

Ia juga mendorong kliennya untuk bisa menjadi lebih baik setiap harinya.

“Saya mengingatkan mereka agar berjuang untuk menjadi yang terbaik yang mereka bisa dan mereka adalah satu-satunya yang dapat melakukannya,” katanya.

Bahkan ketika itu gagal, Arreaga mengatakan kepada kliennya untuk mengambil istirahat karena sesekali waktu melewatkan olahraga juga tak akan menjadi masalah besar.


Terkini Lainnya


Close Ads X