Kompas.com - 06/11/2018, 16:55 WIB

KOMPAS.com - Peringatan Sumpah Pemuda 2017 menjadi salah satu hari yang tak terlupakan bagi Gally Magido Rangga, pemilik mereka sepatu lokal asal Bandung, Exodos57.

Pada hari itu, ia diundang Presiden Joko Widodo ke Istana Bogor.

Di hari yang sama, sepatu buatannya membuat Jokowi kepincut, dan langsung membelinya.

“Yang dibeli (Jokowi) seri 3laborate,” ujar pria yang akrab disapa Gally Gangga kepada Kompas.com di Bandung, belum lama ini.

Sepatu yang dibeli Jokowi memiliki ciri khas yang serupa dengan sepatu Exodos57 lainnya, yakni sneakers yang menggabungkan bahan kulit, kanvas, dan tenun.

Keistimewaan lainnya ada pada desain vintage-nya.

Namun, meski mengusung style yang "jadoel", perpaduan bahan kulit, sol, hingga cutting-nya, membuat sepatu Exodos57 terlihat unik, berkelas, sekaligus modern.

Baca juga: 7 Sneakers Jokowi yang Mencuri Perhatian

Style Exodos memang vintage sneakers. Itu karena saya suka vintage,” tutur Gally.

Kendati begitu, bukan hal mudah untuk menggabungkan selera dia dengan pasar.

Gally mengaku, setidaknya membutuhkan waktu satu tahun untuk mencari karakter Exodos57.

Gally Rangga, sosok di belakang Exodos57Kompas.com Wisnu Nugroho Gally Rangga, sosok di belakang Exodos57

“Tahun 2016 saya buat Exodos. Untuk mencari karakter dan develop barang sampai jadi itu butuh satu tahun."

"Karakternya enggak gampang, karena ingin menyatukan selera saya dengan pasar,” ungkap dia.

Bagi Gally, hal itu merupakan bagian dari brand image.

Bagaimana menciptakan produk buatannya, bukan asal jiplak. Karena itu pula, sampai sekarang, ia merasa belum mendapatkan hasil maksimal.

Ia terus mendesain produk-produk baru. Kini sudah ada 40 desain yang diciptakannya.

Setiap desain biasanya tidak dibuat banyak. Hal itu merupakan bagian dari strategi dalam upaya memasarkan produknya.

“Selain itu saya orangnya tidak cukup puas. Makanya saya terus mendesain dan mendesain,” ungkap dia.

Sejak produk ini dilepas masif ke pasaran 2017 lalu, animo masyarakat dalam dan luar negeri sangat tinggi.

Baca juga: Dibuat Terbatas, Sepatu Peta Indonesia Exodos 57 Langsung Sold Out

Baru satu tahun, permintaan pasar mencapai 1.300-1.500 pasang per bulan.

Permintaan itu datang dari berbagai daerah di Indonesia, serta beberapa negara seperti Malaysia, Singapura, Korea, Jepang, Swis, Kanada, Jerman, Belanda, hingga Amerika Serikat.

Salah satu produk Exodos seri Kearifan Lokal 2.KOMPAS.com/RENI SUSANTI Salah satu produk Exodos seri Kearifan Lokal 2.

“Seringkali ongkirnya lebih mahal dibanding harga sepatu Exodos yang berkisar antara Rp 350.000-Rp 2,9 juta,” ungkap dia.

Namun, tingginya permintaan tidak sesuai dengan kemampuan produksi.

Dalam satu bulan, -karena beragam faktor, Exodos hanya mampu membuat 600-700 pasang. 

“Saya tidak menggunakan uang pinjaman bank. Jadi keuntungannya, saya putar kembali untuk keperluan bahan, gaji karyawan, memperluas tempat, kendaraan operasional, dan lainnya."

"Jadinya belum mampu memenuhi permintaan,” ucap dia.

Baca juga: Transformasi Tunggangan Ridwan Kamil dari Sepeda Jadi Moge...

Gaya hidup

Gally merasa, Exodos sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Target utamanya pemuda usia 25-40 tahun.

Sepatu buatan tangan ini pun cocok dikenakan ke acara resmi maupun santai.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by @exodos57.indonesia (@exodos57) on Oct 30, 2018 at 11:35pm PDT

“Saya kalau pake blazer, sepatunya pakai Exodos, cocok-cocok saja,” ungkapnya.

Hal serupa dikenakan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Dalam akun Instagram Exodos, pria yang akrab disapa Emil ini mengenakan sepatu Exodos dengan setelan jas, kemeja putih, dan dasi kupu-kupu.

“Kang Ridwan Kamil mengenakan seri terbaru Exodos, namanya Kearifan Lokal 2. Kang Emil beli Rp 6 juta waktu itu,” ucap dia.

Arti Exodos

Exodos diambil dari bahasa Yunani kuno yang berarti jalan keluar. Sedangkan "5" berarti anugerah, dan "7" kesempurnaan.

Pemilik Exodos57, Gally Magido Rangga.KOMPAS.com/RENI SUSANTI Pemilik Exodos57, Gally Magido Rangga.

Nama ini diambil dari cerita hidup Gally yang hidup di jalan, dan bergabung dengan Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ).

Gally mengaku, idealismenya sangat memengaruhi karya (produk sepatu) yang dihasilkannya.

Meski memperhitungkan pasar, ada kalanya ia membuat produk yang lebih memperlihatkan idealismenya, dan tidak terlalu peduli produk diterima pasar atau tidak.

“Saya suka desain walau tidak punya basic desain. Saya suka sepatu, makanya saya bikin sepatu,” ungkap dia.

Baca juga: Sepatu Pertama Onitsuka Tiger, Seperti Apa Bentuknya?

Dengan modal nekat, ia kemudian membuat produk sepatu bermerek Wayout.

Kemudian ia mengembangkan bisnisnya dengan mendirikan Exodos57 dengan modal Rp 5 juta.

“Modal itu hanya cukup untuk bayar gaji karyawan, karena material semua pinjam dulu ke teman,” cetus dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.