Komentari Pemerkosaan, Hati-hati “Rape Culture” dan Salahkan Korban - Kompas.com

Komentari Pemerkosaan, Hati-hati “Rape Culture” dan Salahkan Korban

Kompas.com - 07/11/2018, 20:43 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCK Ilustrasi

KOMPAS.com – Kasus kekerasan seksual atau pemerkosaan sudah pasti melibatkan dua pihak, korban dan pelaku. Ada banyak sebab yang membuat pemerkosaan bisa terjadi, mulai dari hasrat biadab pelaku yang tak tertahan atau mungkin adanya kesempatan.

Namun, apa pun itu, kita perlu berhati-hati dalam memberikan komentar atau tanggapan terkait kasus kekerasan seksual yang dialami seseorang.

Sebab, kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dua pihak yang terlibat, sebelum, pada saat itu, dan setelah pemerkosaan terjadi.

Alih-alih berkomentar, Anda bisa terjerumus dalam rape culture atau victim blaming tanpa Anda sadari. Tapi, apa itu rape culture dan menyalahkan korban atau victim blaming?

Rape culture

Rape culture secara sederhana dapat diartikan sebagai pemakluman pemerkosaan yang terjadi di tengah masyarakat.

Dilansir dari situs Southern Connecticut State University, rape culture adalah suatu lingkungan yang menganggap kekerasan seksual yang terjadi di sekitarnya sebagai hal wajar dan mudah untuk dimaafkan.

Hal ini tercermin dari penggunaan bahasa yang menunjukkan diskriminasi seksual antara laki-laki dan perempuan, ketidakberpihakan kepada perempuan, atau menjadikan perempuan sebagai obyek seksual.

Ini berpotensi menciptakan masyarakat yang abai terhadap hak dan keamanan seorang perempuan.

Dalam hal ini perempuan selalu disalahkan atas terjadinya sebuah kasus pemerkosaan. Setidaknya, perempuan diposisikan sebagai obyek yang memang sepantasnya ada di posisi tersebut.

Tanpa disadari masyarakat atau mungkin kita sendiri kerap melakukan hal yang disebut sebagai rape culture tersebut.

Komentar itu antara lain:

- Menyalahkan pakaian yang dikenakan korban.
- Menyalahkan perilaku perempuan yang menjadi korban.
- Menganggap perempuan yang menjadi korban itu bodoh karena menuruti tipu daya lelaki.
- Berasumsi pemerkosaan pasti dilatarbelakangi dengan alasan suka sama suka.

Lebih dari itu, hal-hal kecil yang biasa terjadi di lingkungan sekitar juga bisa disebut sebagai rape culture. Contohnya:

- Menganggap pria agresif sementara wanita pasif.
- Berpendapat "boys will be boys" dan memaklumi kenakalan laki-laki.
- Menganggap aktivitas seksual sebagai pencapaian sebuah hubungan.
- Meminta perempuan untuk tidak terlalu dingin dan cuek.
- Menjadikan kekerasan seksual sebagai bahan candaan.

Padahal, ada banyak faktor yang melatarbelakangi mengapa sebuah tindak pemerkosaan bisa terjadi. Salah satunya adanya relasi kuasa yang tidak sepadan antara laki-laki dan perempuan. Artinya, tidak semua kasus pemerkosaan disebabkan oleh pihak perempuan.

Victim blaming

Seorang pelaku atau pihak-pihak yang membela pelaku, biasanya akan menyalahkan korban sebagai penyebab terjadinya pemerkosaan.

Hal itu dilakukan untuk mengamankan posisinya agar orang lain tidak menilai dirinya bersalah, dan justru korban yang patut disalahkan.

Hal ini tidak dibenarkan karena dapat memperparah keadaan psikologis perempuan yang menjadi korban.

Perempuan yang sudah mendapatkan kekerasan seksual dan disalahkan atas kejadian yang menimpanya akan merasa tidak nyaman sehingga enggan berbagi cerita dengan orang lain.

Menyalahkan korban berarti membiarkan pelaku lepas dari tanggung jawabnya setelah kekerasan seksual yang dia lakukan.

Adapun victim blaming bisa saja dalam kalimat seperti:

- "Pasti perempuannya yang memancing".
- "Salah perempuan itu, ngapain mau diajak ke tempat sepi".
- "Jangan-jangan perempuannya menikmati"
- "Kucing (lelaki) kalau dikasih ikan asin (ada perempuan), mana mungkin menolak"
- "Bukannya dia sering gonta-ganti cowok?"



Close Ads X