Menepis Citra "Gaptek" pada Wanita Pengusaha UMKM - Kompas.com

Menepis Citra "Gaptek" pada Wanita Pengusaha UMKM

Kompas.com - 09/11/2018, 18:44 WIB
Dari kiri ke kanan: Rina Trinawati pemilik usaha Tintin Chips, Esthetika Wulandari pemilik Sekar Gemati Agroventure, dan Head of Marketing Google Indonesia, Veronika Utami.KOMPAS.com/Lusia Kus Anna Dari kiri ke kanan: Rina Trinawati pemilik usaha Tintin Chips, Esthetika Wulandari pemilik Sekar Gemati Agroventure, dan Head of Marketing Google Indonesia, Veronika Utami.

KOMPAS.com - Citra gagap teknologi (gaptek) yang lekat dengan wanita membuat banyak pengusaha Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) wanita merasa ragu memanfaatkan teknologi internet untuk membesarkan usahanya.

Padahal, wirausaha yang menggunakan internet dalam bisnisnya mengalami kemajuan usaha lebih tinggi.

Esthetika Wulandari sempat gamang ketika ingin memulai bisnis tempat berkemah keluarga di sebuah desa di Kabupaten Sukabumi karena faktor geografis yang terpencil.

Tempat kemah yang diberi nama Sekar Gemati Agroventure itu pada awalnya ia pasarkan dengan pendekatan personal pada orang-orang yang dikenalnya.

"Lokasinya memang susah dicari. Saya lalu memanfaatkan Google Maps untuk memudahkan pencarian rute," kata Tika, panggilan akrabnya.

Pada Juli 2018 Tika kemudian diperkenalkan dengan Gapura Digital dan Womenwill sebuah pelatihan gratis untuk para wirausaha yang diinisiasi oleh Google Indonesia.

"Dunia digital adalah sesuatu yang baru, ada rasa enggak pede juga pada awalnya. Tetapi sejak ikut pelatihan dan mencoba Google Bisnisku, sekarang saya bisa menargetkan Sekar Gemati pada pelanggan yang tepat," katanya.

Baca juga: Sri Mulyani: UMKM Serap 96 Persen Tenaga Kerja

Wirausaha perempuan lainnya, Rina Trisnawati pemilik usaha kue kering Tintin Chips juga mengaku bisnis yang dirintisnya berkembang pesat setelah memanfaatkan teknologi informasi secara efektif.

"Tantangan berat dalam usaha makanan adalah menjualnya. Kalau dilakukan secara offline jangkauannya sedikit. Secara digital kini jadi sangat luas, bahkan sampai luar negeri," kata wanita yang biasa disapa Teh Rina ini.

Produksi Tintin Chips saat ini dibantu oleh ibu-ibu yang memiliki anak difabel di kawasan Cileunyi, Bandung.

Menurut dia, lewat teknologi digital, dengan usaha minimal promosi usahanya meningkat pesat yang berimbas pada tingkat penjualan. "Kenaikannya sampai 75 persen," ujarnya.

Berkat pelatihan Womenwill yang diikutinya, Teh Rina saat ini sudah akrab dengan berbagai trik membuat website penjualannya banyak dikunjungi orang.

"Sangat mudah, bahkan bisa kita pantau semuanya dari handphone," ujarnya.

Mengubah mindset

Hasil studi yang dilakukan Google Indonesia mencatat, 47 persen wanita pengusaha UMKM belum memanfaatkan internet untuk mendukung bisnisnya.

Untuk mengubah mindset para pengusaha wanita dari offline menjadi online, Google Indonesia sejak pertengahan tahun 2017 meluncurkan program Womenwill untuk berbagi pengetahuan mengelola bisnis secara digital di 6 kota besar di Indonesia.

"Womenwill tidak cuma memberi pengetahuan teknis tapi juga soft skill," kata Head of Marketing Google Indonesia, Veronika Utami, di sela acara Women's Forum 2018 di Ciputra Artpreneur Jakarta (8/11).

Karena menyasar peserta wirausaha wanita, menurut Veronika, modul yang diberikan dimulai dari yang paling dasar.

"Sesederhana membuat email ternyata masih banyak yang belum bisa. Padahal, dalam bisnis itu penting. Jadi kami agak mundur sedikit, mulai dari hal sederhana sampai yang sifatnya teknis," katanya.

Ia menambahkan, sampai saat ini sudah lebih dari 200.000 peserta yang mengikuti pelatihan ini secara gratis.

"Hasil survei juga menunjukkan 90 persen peserta mengatakan mereka telah belajar cara-cara baru berbisnis online dan 48 persen melaporkan peningkatan jumlah pelanggan bisnis, baik yang menelepon atau mengunjungi websitenya," kata Veronika.

Tika dan Teh Rina berharap semakin banyak wanita yang bersemangat untuk belajar teknologi. "Sesama wanita memang harus saling mendukung untuk maju," kata Tika.



Close Ads X