Diet Puasa Dianggap Kurang Efektif Jangka Panjang

Kompas.com - 28/11/2018, 14:15 WIB
Ilustrasi dietDavizro Ilustrasi diet

KOMPAS.com - Diet puasa intermiten belakangan ini populer sebagai cara cepat menurunkan berat badan.

Meski banyak testimoni orang yang sukses menjadi lebih langsing, namun hasil dari pusat penelitian kanker Jerman dan Heidelberg University Hospital mengungkap fakta sebaliknya.

Mereka menyimpulkan, puasa intermiten tidak lebih baik daripada diet pembatasan kalori.

Salah satu peneliti, Ruth Schübel mengatakan ada banyak riset tentang puasa intermiten namun semua hanya menguak sisi positifnya.

Puasa intermiten merupakan pola makan yang mewajibkan kita melakukan puasa selama 16 jam sehari dan bebas makan apa saja selama 8 jam.

“Jendela” makan ini sangat bervariasi. Selain menggunakan kosep 16:8, puasa intermiten yang populer adalah 5:2, di mana selama lima hari kita bisa makan biasa dan dua hari berpuasa.

Sayangya, seringkali penurunan berat badannya tak berlangsung lama.

Pakar nutrisi berpendapat, tak ditemukan perubahan metabolisme yang bermanfaat bagi kesehatan. 

Diet puasa juga dianggap tidak sesuai untuk pengaturan berat badan jangka panjang. Bahkan, tak ada cukup data untuk mengevaluasi manfaat jangka panjang dari diet ini.

Dalam riset ini, peserta terbagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama melakukan diet pembatasan kalori konvensional, yang mengurangi asupan kalori harian sebesar 20 persen.

Kelompok kedua mengikuti puasa intermiten 5:2, dengan pengurangan kalori sebesar 20 persen selama seminggu penuh.

Kelompok ketiga yang dikenal sebagai kelompok kontrol tidak mengikuti rencana diet khusus.

Tapi, mereka diminta untuk mengonsumsi makanan seimbang sesuai dengan rekomendasi peneliti.

Baca juga: Mengenal Puasa Intermiten yang Diklaim Efektif Menurunkan Berat Badan

Setelah periode diet berakhir, para peneliti terus melacak bobot dan status kesehatan masing-masing peserta selama 38 minggu.

Hasil menunjukan, dua model diet tersebut menunjukan hasil yang sama. Ini berarti puasa intermiten tidak menunjukan hal yang istimewa.

"Peserta dari kedua kelompok menunjukan adanya penurunan berat badan. Selain itu, dua kelompok tersebut juga menunjukan menghilangnya lemak visceral atau lemak perut. Begitupula, lemak berlebih di hati berkurang," kata Schübel.

Riset juga menunjukkan tidak ada perbedaan dalam nilai-nilai metabolik, biomarker atau aktivitas gen antara dua jenis diet tersebut.

"Di sisi lain, bagi sebagian orang lebih mudah melakukan puasa selama dua hari dibandingkan menghitung kalori dan membatasi makanan setiap hari," jelas Tilman Kuhn, salah satu peneliti.

Untuk menjaga berat badan tetap seimbang, ia merekomendasikan kita untuk beralih pada diet seimbang mengikuti rekomendasi gizi. 

Intinya, apapun pola diet yang kita jalani, kita harus bertahan melakoninya dalam jangka panjang untuk melihat hasilnya. 



Close Ads X