Waktu dan Uang Jadi Alasan Utama Orang Indonesia Enggan Berolahraga

Kompas.com - 07/12/2018, 13:07 WIB
Ilustrasi olahraga pagiimtmphoto Ilustrasi olahraga pagi

JAKARTA, KOMPAS.com - Saat ini banyak tren olahraga baru yang dikenal oleh masyarakat Indonesia. Namun, ternyata tren yang berkembang tidak berbanding lurus dengan kebiasaan masyarakat dalam melakukan aktivitas fisik dan olahraga.

Hal itu salah satunya diketahui dari hasil riset AIA Healthy Living Index 2018. Adapun survei Healthy Living Index 2018 melibatkan 11.000 responden berusia di atas 18 tahun dari 16 negara, termasuk Indonesia.

Head of Brand and Communication PT AIA Financial Kathryn Monika Parapak menjelaskan, dari sisi bagaimana orang Indonesia melakukan pengeluaran yang berhubungan dengan kehidupan, hanya 5 persen yang mengalokasikan dananya untuk olahraga.

Sementara 50 persennya untuk membeli makanan sehat dan 30 persen untuk biaya tes kesehatan.

"Jadi banyak masyarakat masih belum berani investasi mengeluarkan biaya untuk olahraga," kata Kathryn pada pemaparan AIA Healthy Living Index 2018 di Elite Club, Epicentrum, Jakarta Selatan, Kamis (6/12/2018).

Ia menambahkan, dua alasan utama orang-orang yang tidak rutin berolahraga adalah alasan waktu dan biaya.

Baca juga: Alasan Orang yang Malas Olahraga dan Bagaimana Mengatasinya

90 persen orang menilai olahraga membutuhkan banyak waktu, sementara sisanya menilai olahraga membutuhkan biaya yang cukup banyak.

Sementara lima alasan terbesar mengapa banyak orang berhenti berolahraga rutin, di antaranya karena membutuhkan banyak usaha (37 persen), lebih memilih melakukan hal lain (32 persen), tidak bisa dilakukan di rumah (32 persen), membutuhkan waktu untuk keluar rumah (31 persen), dan tidak efektif (30 persen).

Hasil survei lainnya adalah penggunaan activity tracker di masyarakat. Saat ini, kata Kathryn, baru sekitar 3 persen masyarakat Indonesia yang menggunaknnya untuk memantau kebiasaan berolahraga.

Alasan terbanyak adalah karena perangkat activity tracker yang dianggap terlalu mahal (54 persen).

"Dianggap terlalu mahal, butuh usaha, dianggap tidak memengaruhi kesehatan, susah dilakukan bersama keluarga, dan merasa tujuan kesehatan sudah tercapai," ujarnya.

Padahal, olahraga sebetulnya bisa dilakukan secara sederhana dan murah sehingga bisa dilakukan dimana saja.

Halaman:



Close Ads X