BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou

Harapan di Balik Kanker, "Si Penyakit" Mematikan

Kompas.com - 10/12/2018, 15:01 WIB
Gambar ilustrasi ShutterstockGambar ilustrasi

KOMPAS.com - Oktober lalu menjadi bulan paling menyedihkan bagi Indro Warkop. Pasalnya saat itu, Nita Octobijanthy yang merupakan istri komedian kawakan tersebut menghembuskan nafas terakhir. Nita meninggal dunia setelah setahun lebih berjuang melawan kanker yang diidap sejak 2017.

Kehilangan sepertinya tak hanya dirasakan keluarga Indro. Kerabat, rekan, bahkan penggemar Indro seolah turut merasakan hal yang sama. Lewat kehadiran saat pemakaman maupun pernyataan bela sungkawa di media soal mengungkapkan rasa kehilangan itu.

Ya, lagi-lagi kanker menorehkan pengalaman khusus dalam hidup Indro Warkop. Sebelumnya, dua personil Warkop DKI lainnya pun tutup usia setelah berjuang melawan keganasan kanker.

Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), kanker merupakan salah satu penyakit penyumbang angka kematian paling banyak di dunia. Dalam riset International Agency for Research on Cancer (IARC) yang dirilis WHO, pada 2018 terdapat 18,1 juta kasus baru dengan 9,6 juta kematian di seluruh dunia.

Riset itu menyimpulkan, 1 dari 5 pria dan 1 dari 6 wanita di seluruh dunia menderita kanker selama masa hidup mereka. Sedangkan, 1 dari 8 pria dan 1 dari 11 wanita di dunia meninggal karena penyakit tersebut.

Di Indonesia sendiri, jumlah pengidap kanker di tanah air terus meningkat. Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan (Riskesdas) menyatakan, sejak 2013 hingga 2018 prevalensi kanker meningkat dari 1,4 permil menjadi 1,8 permil.

Lalu, siapa saja yang bisa terserang kanker? Secara teoritis setiap orang berpotensi terserang penyakit tersebut. Apalagi, jika didukung faktor-faktor pencetusnya.

Faktor pemicu kanker

Director of Specialist Consultation Center of St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou dr. Ke Liqun menjelaskan, ada sejumlah faktor yang dapat memicu timbulnya penyakit kanker. Ada pun tiga faktor utama kanker yakni polusi, kimia dan biologis.

Director of Specialist Consultation Center of St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou dr. Ke Liqun .Dok. St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou Director of Specialist Consultation Center of St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou dr. Ke Liqun .
“Ketiga faktor tersebut saling mempengaruhi,” ucap dokter spesialis kanker itu kepada Kompas.com, Rabu (4/11/2018).

Menurut dia, faktor biologis yang disebutkan sebelumnya juga dapat dikatakan sebagai (faktor) keturunan atau genetik.

“Misalnya seorang wanita mengidap breast cancer, maka secara genetik ia menurunkan sel kanker tersebut ke anaknya. Jadi potensi si anak untuk terserang kanker tetap ada, tapi kemungkinan menjadi penyakit cukup kecil, karena bukan menjadi faktor utama,” ujar
Ke.

Setiap orang berpotensi kanker

Ya, meski dikatakan setiap orang berpotensi terserang kanker, namun tidak semuanya dapat dengan mudah terserang penyakit tersebut. Timbulnya kanker tergantung dari normal atau tidaknya mutasi genetik seseorang.

“Jadi semuanya itu dilihat pula dari faktor mutasi genetiknya. Jika mutasi genetik kita normal maka jarang sekali bisa terserang kanker. Jadi yang memicu timbulnya kanker itu adalah karena kegagalan mutasi genetik,” kata dokter yang berpengalaman di bidangnya selama 30 tahun itu.

Lebih lanjut, dokter yang juga penemu the systematic medical mode and triple accurate shock therapy for cancer ini memberikan contoh seorang perokok. 

Menurut dia. kita pasti pernah melihat orang tua atau kakek-kakek yang merokok sepanjang hidupnya, namun masih baik-baik saja. Ini membuktikan sekali pun dia seorang perokok berat tapi karena punya genetik normal, jadi tidak ada masalah dengan kanker.

Lalu apa yang harus dilakukan saat seseorang divonis kanker?

Saat dinyatakan positif mengidap kanker, hal pertama yang harus dilakukan adalah segera mencari dokter ahli onkologi.

Konsultasi dengan dokter ahli kanker berguna untuk mendapatkan penjelasan penyakit secara detail. Dengan demikian, tim medis dapat menentukan metode pengobatan yang tepat.

Langkah itu dilakukan oleh Ani, mantan penderita kanker nasofaring. Perempuan berusia 50 tahun ini tidak pernah menduga bisa terserang kanker.

Ani (50), mantan pengidap kanker nasofaringKompas.com/Hotria Mariana Ani (50), mantan pengidap kanker nasofaring

Awalnya, ia menderita gangguan sakit kepala terus-menerus. Rasa sakit itu mendorongnya melakukan serangkaian tes kesehatan. Hingga akhirnya, pada April 2014, ia resmi divonis mengidap kanker nasofaring.

Kanker nasofaring adalah kanker terganas di ranah THT. Saat itu, sudah stadium tiga,” ungkap warga Depok, Jawa Barat itu.

Ia mengaku hanya bisa terdiam mendengar vonis tersebut. Namun, dalam diamnya, Ani berpikir bagaimana menemukan cara untuk mengobati kanker tersebut.

“Yang ada di pikiran saya saat itu cuma, harus berobat kemana ya?” tutur Ani.

Bak mukjizat, Ani akhirnya mendapatkan jalan keluar. Berbekal laptop, suaminya berselancar di internet. Saat ia mengetikkan keyword tertentu terkait penyakit Ani, muncul sebuah nama rumah sakit yaitu St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou.

Setelah mengantongi informasi yang cukup, Ani dan suaminya memutuskan untuk membuat appointment konsultasi medis di sana.

Singkat cerita, setelah menjalani serangkaian konsultasi dengan dokter di St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou. Ia berkeyakinan menjalani pengobatan di rumah sakit tersebut.

Penanganan medis yang tepat

Tak bisa dipungkiri, saat seseorang divonis menderita kanker maka rasa khawatir, cemas, dan putus asa memenuhi pikirannya. Padahal, secara medis, seseorang yang dalam kondisi drop, sistem imunitasnya pun otomatis ikut menurun.

“Jadi ketika imunitas menurun, sel-sel kanker menjadi dominan dan justru semakin berkembang,” jelas dr. Ke.

Kecemasan dan kekhawatiran mestinya bisa dikurangi agar sistem imunitas penderita kanker tetap baik. Oleh karenanya, dibutuhkan lingkungan yang mendukung agar penderita kanker tetap merasa nyaman.

Ani mengaku mengungkapkan, pelayanan dan fasilitas medis di rumah sakit itu terbukti mendukung proses penyembuhan penyakitnya. Situasi yang kondusif di rumah sakit itu pun membuatnya merasa nyaman.

“Di sana saya enggak merasa seperti orang yang sakit. Karena di sana itu saya happy aja bawaannya,” tuturnya.

Rumah sakit kanker bertaraf internasional

St. Stamford Modern Cancer Hospital merupakan rumah sakit khusus kanker bertaraf internasional yang berlokasi di Guangzhou, Tiongkok bagian Selatan. Rumah sakit ini berpengalaman menangani pasien kanker dari berbagai negara.

St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou merupakan rumah sakit khusus kanker bertaraf internasional, berpusat di Guangzhou dan memiliki 11 kantor perwakilan di Asia.Dok. St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou merupakan rumah sakit khusus kanker bertaraf internasional, berpusat di Guangzhou dan memiliki 11 kantor perwakilan di Asia.
Meski berpusat di Guangzhou, rumah sakit itu memiliki 11 kantor perwakilan di Asia, termasuk Indonesia. Khusus di Tanah Air, kantor perwakilan berada di Jakarta, Surabaya, dan Medan.

Berbeda dengan rumah sakit kanker lainnya, rumah sakit itu mengusung konsep “Pasien yang Utama.” Di samping itu, rumah sakit tersebut menerapkan terapi gabungan antara timur dan barat dengan berbagai teknologi canggih terkini.

Dalam pelaksanaannya, rumah sakit ini memiliki 21 teknologi metode pengobatan kanker yang memperhatikan kebutuhan pasien. Metode pengobatan yang dilakukan pun memiliki target.

Dengan begitu, proses pengobatan mampu meminimalkan kerusakan organ tubuh, bila dibandingkan dengan pengobatan kanker konvensional. Singkatnya, rumah sakit ini menerapkan konsep minimal invasif.

“Lebih spesifik lagi, ada cyrosurgery yang berfungsi menggantikan operasi,” jelas dr. Ke.

Metode cyrosurgery merupakan metode pengobatan minim luka yang berfungsi menggantikan metode operasi konvensional.

Selain itu, rumah sakit ini menggunakan metode intervensi untuk menggantikan kemoterapi konvensional. Dalam metode tersebut, konsentrasi obat tepat mengenai sasaran sehingga tidak menimbulkan side effect pada organ lain.

Sementara itu, pada kemoterapi konvensional, obat dimasukkan melalui pembuluh darah vena yang nantinya akan dipompa oleh jantung. Dengan begitu, otomatis konsentrasi obatnya menyebar ke seluruh tubuh sehingga mempengaruhi organ yang baik.

Dengan metode pengobatan yang tepat, para penderita kanker pun memiliki harapan untuk sembuh. Seperti Ani yang dinyatakan bebas dari kanker nasofaring usai menjalani rangkaian pengobatan di negeri tirai bambu.

“Setelah menjalani rangkaian pengobatan yang terhitung cepat, dokter menyatakan saya bersih dari kanker,” kata Ani.

 


Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.