Awas, Stres Picu Emotional Eating

Kompas.com - 18/12/2018, 15:29 WIB
Ilustrasi makan, lapar DragonImagesIlustrasi makan, lapar
|
Editor Wisnubrata

JAKARTA, KOMPAS.com - Stres dan depresi adalah hal yang kerap terjadi, terutama di kota-kota besar. Menurut survei Zipjet tahun 2017, misalnya, Jakarta berada di peringkat 18 teratas kota dengan penduduk paling stres dengan total skor 7,84. 

Oleh karena itu, tak heran jika berbagai macam cara dilakukan masyarakat untuk menghadapi stres, salah satunya adalah mengonsumsi makanan atau minuman yang dianggap sebagai comfort food.

Sayangnya, tanpa disadari kebiasan tersebut justru memicu emotional eating yang jika tidak dikendalikan dapat meningkatkan asupan gula, garam dan lemak (GGL) yang mampu memicu penyakit.

Psikolog dari LightHOUSE, Tara de Thouars mengungkapkan, emotional eating merupakan kondisi di mana makan dipilih sebagai cara untuk mengatasi stres. Makan dianggap sebagai penenang, sekaligus pelarian. 

Emotional eating berasal dari dua aspek. Pertama dari sisi fisik, ketika seseorang mengalami stres biasanya akan mengalami perubahan kimiawi di otak, dopamin dan serotonin. Dua hal itu memiliki peranan besar mengatur mood. Nah, saat stres, kadar keduanya turun, sehingga mood tidak baik. 

Kedua, dari sisi psikologis, setiap manusia memiliki survival insting, di mana jika ada sesuatu yang tidak nyaman maka ia akan mencari sesuatu untuk menyeimbangkan. Untuk menyeimbangkan emosi, salah satu yang dipilih adalah makanan. 

Tara menambahkan, ada alasan di balik hubungan antara stres dan makan. Menurutnya, emosi dan logika tidak bisa jalan bersama. 

Ketika emosi naik, maka logika akan turun, begitu pun sebaliknya. 

“Karena itu, apa pun keputusan yang kita buat, jika dalam keadaan emosi tinggi, keputusannya biasanya enggak tepat, termasuk makan,” kata Tara saat acara Jakarta Food Editor’s Club (JFEC), Selasa (18/12/2018). 

“Nah, makan kan perilaku pengambilan keputusan. Ketika dalam kondisi stres, pengambilan keputusan makan biasanya tidak tepat, misalnya berlebihan dari yang dibutuhkan dan pilihan makanannya tak sehat.“

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X