DR. dr. Tan Shot Yen, M.hum
Dokter

Dokter, ahli nutrisi, magister filsafat, dan penulis buku.

Keamanan Pangan dan Ketahanan Pangan: Di Dunia Manakah Kita?

Kompas.com - 23/12/2018, 08:05 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

Pendekatan mekanistik membuat banyak ilmuwan dan ahli kesehatan membaca tubuh manusia ibaratnya seperti “teks” – yang hasil asesmennya bisa dianalisa dan ‘dibetulkan’ layaknya mesin masuk bengkel.

Kecukupan gizi hanya dihitung secara matematis, bahkan ibu si anak dianggap terlalu bodoh untuk bisa memahami proporsi gizi seimbang yang bisa diraciknya sendiri di rumah. Dapurnya pun dinilai terlalu jorok untuk bisa memenuhi standar keamanan pangan bayi dan anak.

Baca juga: Bermain Jadi Dokter Sendiri, Berujung Ngeri


Anehnya, jika produk pabrik suatu hari kedapatan bermasalah, sebut saja “tidak disengaja” mengandung kontaminasi logam berat seperti yang terjadi di negara maju belum lama ini, maka aksi bela diri industri segera dilakukan.

Mulai dari menarik semua produknya hingga berbagai pernyataan pembenaran yang didukung ‘para ahli', membuat pemerintah serta badan pengawas obat dan makanan salah tingkah.

Kontaminasi melamin dalam susu formula atau logam berat di sereal memang tidak membuat bayi keram perut langsung, tidak seperti ibu jorok memasak bubur yang bikin bayi mencret seketika.

Keracunan bertahap dalam jangka panjang yang terakumulasi, apabila suatu hari menyebabkan kelainan tumbuh kembang akibat produk industri, biasanya dengan mudah akan dibelokkan dengan pelbagai kontributor lain alias perancu - yang ujung-ujungnya industri masih menang.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di titik krusial ini, orangtua-lah yang dianggap paling bersalah: karena ayahnya merokok (dan pabrik rokok pun tidak bisa ditilang), polusi udara di tempat tinggal yang berhimpitan, dan rutinitas bakar sampah untuk mengurangi sampah plastik katanya, diperberat infeksi berulang akibat tidak punya jamban yang memadai setiap kali buang hajat.

Baca juga: Mencari Solusi Akibat Adopsi Teknologi Tanpa Literasi

Jaminan keamanan dan ketahanan pangan yang masih dipahami secara sempit, membuat suatu bangsa mau-tak-mau terjebak dengan fenomena di atas.

Alhasil keamanan pangan tidak lagi dilihat secara jangka panjang, begitu pula kecukupan pangan menjadi lahan investasi besar-besaran bagi pemilik modal, bukan lagi pemberdayaan petani yang ilmunya tidak pernah terbarukan, apalagi diperkenalkan dengan pendidikan pertanian untuk peningkatan mutu.

Saat ini Indonesia sedang berjuang untuk bergeser dari istilah negara berkembang menuju predikat negara maju.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.