Haruskah Berhenti Minum Kopi saat Menderita Kecemasan?

Kompas.com - 08/01/2019, 13:13 WIB
Ilustrasi kopi5second Ilustrasi kopi

KOMPAS.com - Sebagai salah satu minuman primadona, kopi ternyata menyimpan efek samping yang membuat tubuh tidak nyaman.

Minum kopi berlebihan bisa menyebabkan kegelisahan dan jantung berdetak kencang. Dengan kata lain, kopi dapat memberi gejala yang sama dengan para penderita kecemasan.

Gangguan kecemasan merupakan salah satu penyakit mental yang umum kita jumpai di kalangan masyarakat.

Bahkan, di Amerika, penyakit mental ini adalah hal umum. Jajak tahunan yang diprakarsai oleh American Psychiatry Association membuktikan, 39 persen responden merasa lebih cemas daripada tahun lalu.

Baca juga: Kenapa Jantung Berdebar Setelah Minum Kopi?

Kabar buruknya, minum rata-rata 3 cangkir kopi sehari akan memperburuk gejala kecemasan.

Mary Margaret Sweeney, selaku instruktur di Unit Penelitian Farmakologi Perilaku Kedokteran Johns Hopkins, mengatakan kafein adalah antagonis reseptor adenosin.

Adenosine adalah bahan kimia yang membantu mengatur gairah. Ketika berikatan dengan reseptor adenosin, reaksinya membuat kita mengantuk.

Tapi, kafein yang merupakan antagonis adenosin justru menimbulkan efek berlawanan, yang menciptakan perasaan bahagia atau antusias.

"Inilah sebabnya mengapa kafein bersifat merangsang," kata Sweeney.

Meski begitu, perasaan itu juga membuat kita berdebar-debar. Sulit bagi seseorang untuk mengetahui apakah efeknya disebabkan oleh kafein atau apakah kafein berkontribusi terhadap efek kecemasan.

Baca juga: Meski Nikmat, Waspadai 7 Efek Samping Minum Kopi Berlebihan

Kita memang dapat mengembangkan toleransi terhadap kafein. Tapi, tergantung pada dosis, frekuensi, dan tingkat eliminasi tubuh. Jadi, tubuh kita tidak pernah sepenuhnya toleran.

"Inilah yang membuat kafein dapat berkontribusi pada gejala kecemasan, bahkan jika kita terbiasa memulai setiap pagi dengan meminum kopi," kata Sweeney.

Halaman:



Close Ads X