Mencairkan Perbedaan Pandangan Lewat Teh...

Kompas.com - 15/01/2019, 17:03 WIB
Pakar Ilmu Sosial, Budaya dan Komunikasi dari Universitas Indonesia, Dr. Devie Rachmawati, M. Hum., CPR ketika ditemui dalam acara yang diselenggarakan SariWangi di Museum Nasional, Selasa (15/1/2018). KOMPAS.com/Nabilla Tashandra Pakar Ilmu Sosial, Budaya dan Komunikasi dari Universitas Indonesia, Dr. Devie Rachmawati, M. Hum., CPR ketika ditemui dalam acara yang diselenggarakan SariWangi di Museum Nasional, Selasa (15/1/2018).

KOMPAS.com - Berbeda pendapat dengan keluarga atau kerabat bukanlah hal yang perlu dipersoalkan.

Namun bagi sebagian orang, perbedaan tersebut akan mengganggu dan pada akhirnya bisa memutuskan hubungan dari mereka yang berbeda pendapat tersebut.

Sebuah survei yang dilakukan internal SariWangi pun menemukan fenomena serupa.

"Data dari survei yang dilakukan SariWangi menunjukkan, terdapat 64 persen responden mengakui pernah atau berpikir untuk memutuskan hubungan dengan orang terdekatnya karena alasan perbedaan."

Hal itu diungkapkan Johan Lie, Senior Brand Manager Tea dari PT. Unilever Indonesia Tbk dalam peluncuran kampanye "Mari Bicara, Indonesia!" di Museum Nasional, Jakarta, Selasa (15/1/2019).

Baca juga: Bayam hingga Teh Herbal, Ini 8 Makanan Pereda Stres...

Meski begitu, lanjut Johan, 96 persen responden menginginkan, perbedaan pandangan tersebut seharusnya masih dapat diperbaiki.

Lewat teh dan makanan

Mencairkan perbedaan pendapat dan perdebatan sebetulnya bisa dilakukan lewat cara yang sederhana, yaitu melalui sajian makanan dan minuman, salah satunya adalah minum teh.

Apalagi, minum teh sudah menjadi tradisi di sejumlah daerah di Indonesia.

"Segala rupa, makan minum. Itu sudah jadi bahasa yang universal sebetulnya."

"Mau bahasannya enggak nyambung, kulit satu hitam satu putih, begitu makan pasti senyumnya sama."

Begitu kata Pakar Ilmu Sosial, Budaya dan Komunikasi dari Universitas Indonesia, Dr. Devie Rachmawati, M. Hum., CPR.

Baca juga: Selain Menyegarkan, Ini Manfaat Teh yang Wajib Diketahui

Devie menekankan, dalil tersebut sudah dikuatkan dengan sejumlah riset.

Salah satunya riset yang dilakukan sejak 1999 hingga 2006 adalah, cara paling sederhana memulai percakapan adalah melalui makanan dan minuman.

Apalagi, saat ini banyak orang yang sudah terbiasa menggunakan gawai sehingga jarang berbicara dengan orang sekitar.

Makanan dan minuman, dalam hal ini teh, bisa menjadi sebuah jembatan.

" Teh dan makanan, bisa efektif untuk menjembatani konflik yang klasik," kata Devie.




Close Ads X