Kompas.com - 29/01/2019, 15:00 WIB
Ilustrasi roti tawar SasaJoIlustrasi roti tawar

KOMPAS.com - Jika tubuh kita dapat memprosesnya dan tidak ada alergi, tak ada alasan kita harus menghindari gluten dari pola makan.

Gluten merupakan protein dalam tepung dan sereal. Gluten ini yang memberikan adonan naik dan teksturnya jadi elastis.

Jadi, gluten bisa kita temukan pada produk roti, pasta, permen, biskuit, bahkan daging yang diproses.

Orang yang menderita penyakit celiac memang wajib menghindarinya karena bisa menyebabkan peradangan dan gangguan metabolisme, terutama di usus halus.

Cara mudah untuk mengetahui apakah kita punya penyakit celiac adalah terjadi reaksi setiap kali mengonsumsi gluten, misalnya diare, perut kembung, nyeri perut, dan gangguan pada kulit.

Sementara itu pada orang yang alergi gluten akan timbul reaksi rasa gatal dan bengkak pada hidung dan tenggorokan, ruam merah di kulit, atau batuk mengi.

Menurut ahli gizi Abby Olson, penyakit celiac termasuk penyakit autoimun dan sering kali genetik (diturunkan). Di Amerika, diperkirakan 0.7 persen memiliki penyakit ini.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bila tetap mengonsumsi gluten, maka penderita celiac tidak bisa menyerap vitamin, zat besi, dan nutrisi lain dengan baik.

Baca juga: Hati-hati, Sembarangan Diet Bebas Gluten Bisa Bahayakan Kesehatan

Tren bebas gluten

Karena alasan kesehatan, banyak juga orang yang sebenarnya tidak perlu berpantang gluten tapi tetap melakukannya.

Padahal, gluten bukan sesuatu yang tidak sehat, jika tubuh kita bisa memprosesnya. Lagi pula, makanan yang mengandung gluten bukan berarti buruk.

Penelitian menunjukkan, konsumsi gluten yang terdapat pada serelia utuh seperti sereal, bisa menjauhkan kita dari risiko kegemukan dan penyakit lain akibat obesitas.

Serelia utuh yang umumnya tinggi serat, juga bisa membantu kita menurunkan risiko kanker, menjadi bakar bakar otot, serta membuat tubuh kenyang lebih lama.

Kuncinya adalah mengonsumsi sesuatu dalam jumlah sedang.

Menurut Olson, malah banyak produk makanan dengan klaim "bebas gluten" justru mengandung kadar gula tinggi.

"Produk gluten-free biasanya mengandung gula tambahan untuk meningkatkan rasanya. Dalam jangka panjang kelebihan gula ini bisa meningkatkan risiko diabetes, tekanan darah tinggi, atau penyakit jantung," katanya.

Olson mengatakan, banyak orang ikut-ikutan tren diet gluten karena secara alamiah kita memang mencari cara untuk merasa diri lebih baik. Namun, masih banyak kesalahpahaman karena kurangnya informasi.

"Jika kita punya masalah dengan pencernaan, jangan hanya melihat ke gluten. Ada banyak alasan lain," katanya.

Bila ingin menurunkan berat badan, jangan hanya menjauhi gluten, tapi tetaplah rutin berolahraga, memperhatikan porsi makan, dan memperbanyak konsumsi makanan yang tidak diproses.

Baca juga: Bahaya Diet Rendah Karbohidrat

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.