Gampang Marah, Gejala Depresi yang Jarang Diketahui

Kompas.com - 08/02/2019, 12:00 WIB
Ilustrasi marahDigital Vision. Ilustrasi marah

KOMPAS.com - Depresi seringkali dikaitkan dengan rasa sedih berkepanjangan dan menarik diri, tetapi ada respon emosional lain yang sering terabaikan padahal merupakan gejala depresi.

Semua tahu rasanya terjebak dalam kemecetan parah atau tidak sengaja menendang meja hingga kopi tumpah. Tentu saja itu akan membuat kita marah.

Marah memang menjadi bagian dari emosi yang sehat. Tetapi, dalam beberapa kasus, marah yang terus menerus atau persoalan kecil bisa membuat kemarahan meledak, itu menjadi pertanda hal yang lebih serius: depresi.

Sebuah penelitian di tahun 2014 menemukan bahwa amarah, baik yang ditekan atau terlalu besar, merupakan tanda dari kondisi mental seseorang.

Orang yang kesulitan mengontrol amarahnya beresiko mengalami depresi. Para ahli mendeskripsikan penyakit mental sebagai "kemarahan terhadap diri sendiri" atau "kemarahan ke dalam".

“Tidak selalu terlihat seperti depresi, padahal memang demikian,” kata Marianna Strongin, seorang psikolog klinis.

Marah yang menjadi gejala depresi bukanlah marah biasa, namun yang gampang meledak dan sulit dikendalikan.

"Orang tersebut atau keluarganya biasanya sadar dia tidak bisa mengendalikan marahnya dan datang ke psikolog untuk mengatasinya. Tapi setelah digali lebih dalam sebenarnya kemarahan itu sebagai gejala depresi," kata Strongin.

Baca juga: Penelitian Ungkap Kaitan Media Sosial dan Depresi

Jika orang yang depresi lebih dikenal dari gejala merasa sedih dan kosong, sebagian punya gejala gampang marah.

Menurut Strongin, lebih mudah untuk menyadari kemarahan sebagai sesuatu yang salah dibanding emosi murung.

“Kesedihan lebih berat untuk dirasakan. Sedih adalah tahapnya dan marah adalah aksinya. Jadi, terkadang orang mengalihkan untuk tidak merasa sedih, tetapi sebaliknya, amarahlah yang terpancing,” tambahnya.

Pada laki-laki

Meski depresi lebih banyak diderita perempuan, tetapi menurut psikolog Sherry Benton laki-laki yang lebih banyak menunjukkan kemarahan sebagai gejala depresi.

Halaman:


Terkini Lainnya


Close Ads X