Tenun Ikat Sikka, Tenun Pertama yang Dilindungi Kekayaan Intelektualnya

Kompas.com - 08/02/2019, 13:10 WIB
Pengrajin menunjukkan motif kain tenun ikat kepada calon pembeli di Pasar Alok, Maumere, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (31/7/2018). Di Pasar Alok, setiap Selasa mulai pukul 06.0013.00 Wita merupakan hari khusus bagi perajin seantero Kabupaten Sikka dan daerah lainnya untuk menjual kain tenun ikat hasil kerajinan tangan yang dibuat dengan mesin tenun tradisonal.ANTARA FOTO/APRILLIO AKBAR Pengrajin menunjukkan motif kain tenun ikat kepada calon pembeli di Pasar Alok, Maumere, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (31/7/2018). Di Pasar Alok, setiap Selasa mulai pukul 06.0013.00 Wita merupakan hari khusus bagi perajin seantero Kabupaten Sikka dan daerah lainnya untuk menjual kain tenun ikat hasil kerajinan tangan yang dibuat dengan mesin tenun tradisonal.

KOMPAS.com - Tenun ikat Sikka, kain tradisional dari Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur  menjadi kain ikat pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikat Indikasi Geografis.

Sertifikat tersebut dikeluarkan oleh Jendreral Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM pada 8 Maret 2017 lalu. Tujuan dari sertifikat ini adalah untuk melindungi kekayaan intelektual hasil kriya bernilai tinggi ini.

"Pemerintah Indonesia mendorong pendaftaran kekayaan intelektual untuk produk-produk asli Indonesia yang memiliki kekhasan dan keunikan karena kondisi geografisnya,” ujar Fathlurachman, Direktur Merek dan Indikasi Geografis, Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Kementerian Hukum dan HAM di Jakarta, Kamis (7/2/2019).
    
Sertifikat Indikasi Geografis (IG) diberikan sebagai standar kualitas serta untuk menunjukkan daerah asal suatu produk tertentu. Selain itu kita juga dapat mengetahui karakter kain tersebut atau bahkan melacak nama penenunnya.

“Dengan adanya label IG, para pembeli atau pemilik produk Tenun Ikat Sikka memperoleh jaminan kualitas, keaslian, dan ketelusuran produk,” kata Oscar Mandalangi Pareira, Ketua Masyarakat Pelindungan Indikasi Geografis (MPIG) dalam acara yang sama.

Natalia (28) berpose di antara kain tenun ikat yang dijualnya di Pasar Alok, Maumere, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (31/7/2018). Di Pasar Alok, setiap Selasa mulai pukul 06.0013.00 Wita merupakan hari khusus bagi perajin seantero Kabupaten Sikka dan daerah lainnya untuk menjual kain tenun ikat hasil kerajinan tangan yang dibuat dengan mesin tenun tradisonal.ANTARA FOTO/APRILLIO AKBAR Natalia (28) berpose di antara kain tenun ikat yang dijualnya di Pasar Alok, Maumere, Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Selasa (31/7/2018). Di Pasar Alok, setiap Selasa mulai pukul 06.0013.00 Wita merupakan hari khusus bagi perajin seantero Kabupaten Sikka dan daerah lainnya untuk menjual kain tenun ikat hasil kerajinan tangan yang dibuat dengan mesin tenun tradisonal.

Proses panjang

Di Sikka kain tenun tidak hanya dipakai untuk sehari-hari, tapi juga untuk upacara adat dengan motif yang berbeda-beda.

Menurut Dollaris Riauaty Suhadi, ketua acara Tenun Ikat Sikka Aucation and Marketplace 2019, motif Tenun Ikat SIkka identik dengan flora dan fauna.

“Ada yang motif bunga mawar. Ada juga kuda dan tokek,” katanya.

Proses pembuatan kain tenun relatif lama. Untuk satu lembar selendang panjang 3 meter dan lebar 1 meter, dibutuhkan plaing singkat 3 bulan, mulai dari kapas dipintal sampai tenun siap.

Benang yang digunakan pun berasal dari kapas yang dipintal sendiri, lalu diwarnai menggunakan bahan-bahan alami seperti akar, batang, dan daun tanaman.
Kain ini pun diklaim tidak mudah rusak dan pudar.

Saat ini beberapa pengrajin ada yang menggunakan benang sintetis dan pewarna tekstil. Penggunaan dua hal itu mempercepat proses pengerjaan, namun menurunkan harga jual kain tersebut.

Harga untuk tenun ikat berbahan benang pabrik bisa dijual di bawah satu juta rupiah. (Aldo C Sitanggang)




Close Ads X