Kebiasaan Gonta-ganti Klinik Kecantikan Juga Berisiko

Kompas.com - 13/02/2019, 10:00 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Melakukan perawatan kulit di klinik kecantikan saat ini bukan hal yang tabu lagi dilakukan. Tidak cuma untuk mengoreksi penampilan, beraneka terapi estetika pun membuat penampilan kulit tetap terjaga.

Dengan banyaknya klinik kecantikan yang ada, tak sedikit pula orang-orang yang berpindah klinik. Apalagi jika mendengar testimoni teman.

Lalu, apakah sebetulnya bergonta-ganti klinik tersebut diperbolehkan?

Founder dan President director Miracle Aesthetic Clinic Group, dr. Lanny Juniarti, Dipl. AAAM tidak menganjurkannya. Sebab, klinik yang baru nantinya tidak memiliki riwayat perawatan orang tersebut.

"Kurang baik (berpindah-pindah klinik) karena kami tidak punya history dia yang dulu. Dulu pernah diapakan saja."

Hal itu diungkapkan Lanny ketika ditemui pada acara Aesthetic Outlook 2019 oleh Miracle di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (12/2/2019).

Sebab, lanjut dia, setiap tindakan memiliki dampak jangka panjang. Itulah mengapa, sebelum sebuah prosedur dilakukan, dokter mendalami terlebih dahulu tentang prosedur yang pernah dilakukan pasien dan seberapa banyak prosedur yang pernah dilakukan.

Baca juga: Perawatan Estetika Kulit Makin Disukai Kaum Pria

Sama halnya jika perawatan yang dilakukan berupa pemakaian krim tertentu. Bergonta-ganti krim bisa jadi menimbulkan reaksi tertentu pada kulit.

Namun, Lanny memahami keinginan masyarakat saat ini yang cenderung lebih kompleks.

Pada 20 tahun lalu, dokter memiliki kriteria cantik sendiri berdasarkan sudut pandang seorang dokter. Kemudian kriteria cantik pasien adalah persepsinya sendiri sehingga terjadi diskusi dua arah dalam melakukan perawatan.

Namun seiring berjalannya waktu, pasien ingin dianggap cantik tidak hanya berdasarkan kriteria dokter dan dirinya sendiri, melainkan juga dari lingkungannya.

Itulah mengapa banyak orang masih terus merasa belum puas meskipun sudah pergi ke sejumlah dokter.

Lanny sendiri pernah menangani pasien yang sangat memerhatikan opini orang-orang di sekitarnya. Pasien tersebut gelisah ketika ada komentar yang negatif terhadap penampilannya.

"Just be yourself! Karena kalau mengikuti komentar orang tidak akan pernah selesai," kata dia.

Baca juga: Pilihan Terapi untuk Menghilangkan Noda Bekas Jerawat

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X