Kompas.com - 21/02/2019, 17:31 WIB
. Thinkstockphotos.

Lanang kemudian mendata berapa banyak anak yang terbiasa sarapan dan tidak. Ternyata, sekitar 51,7 persen anak memiliki kebiasaan sarapan.

Anak-anak yang memiliki kebiasaan sarapan rupanya juga memiliki nilai rapor dengan rata-rata di atas 7,1.

"Kami ambil nilai semester paling terakhir, lalu kami lihat nilainya dan seluruhnya dirata ratakan nilainya dan dibandingkan," kata Lanang.

Baca juga: Protein Nabati Atau Hewani, Mana yang Lebih Efektif Buat Diet?

Menurut dia, sarapan anak-anak tersebut tergolong bernutrisi.

Untuk karbohidrat, biasanya mereka mengonsumsi nasi, namun ada pula yang menyantap   mie.

Sementara, lauk pauk kebanyakan mengonsumsi sayur, telur, dan ikan.

Setidaknya, kata Lanang, sarapan mampu memenuhi empat dari tujuh komponen gizi.

Ada pun tujuh komponen gizi tersebut adalah biji-bijian utuh, legume dan kacang-kacangan, produk susu, daging, telur, sayur, dan buah kaya vitamin A, serta sayur dan buah lainnya.

"Paling tidak dari tujuh ada empat komponen yang dipenuhi, tapi hewani tetap harus ada. Kalau bisa lebih dari empat bagus," ujar dia.

Mengapa sarapan berkorelasi dengan nilai akademik?

Baca juga: Sarapan Bukan Asal Kenyang

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.