DR. dr. Tan Shot Yen, M.hum
Dokter

Dokter, ahli nutrisi, magister filsafat, dan penulis buku.

Generasi Milenial Perlu Kenal Bedanya Makan “Beneran” dan Camilan

Kompas.com - 02/03/2019, 09:59 WIB
Ilustrasi ThinkstockphotosIlustrasi

 

Pergeseran budaya, transformasi makna, mau tak mau membuat kita perlu berhenti sejenak dan mengevaluasi semuanya kembali.

Beberapa mahasiswa saya pernah berkomentar,”Kudapan sebetulnya sih snacking ya. Tapi kalau snacking sorenya sudah larut dan berat, yaaaa anggap saja makan malam deh. Kan yang penting kalori hariannya tercukupi?” Jawaban yang semakin membuat pusing kepala.

Fakta memang menunjukkan, cukup banyak anak, remaja hingga mahasiswa dan karyawan muda tidak lagi sarapan di rumah. Alasan terbanyak: tidak cukup waktu dan tidak terbiasa.

Satu pasien muda saya, berusia 10 tahun dengan berat badan 50 kilo. Saat ibunya panik membaca berita penderita obesitas dewasa yang harus jebol tembok untuk ke rumah sakit, anaknya diberi sarapan oatmeal, susu skim, dan 3 macam buah setiap pagi di mobil dalam perjalanan ke sekolah. Dan ternyata anaknya makin gemuk.

Baca juga: Mencari Solusi Akibat Adopsi Teknologi Tanpa Literasi

Kebingungan makan bertahun-tahun dan mencari jawaban instan jika sudah timbul masalah bagi saya merupakan dering tanda bahaya – di mana seorang perempuan yang siap punya anak tapi tidak punya ‘manual’ bagaimana membesarkan anaknya – karena ia sendiri tidak punya protokol manual hidup sehat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Persis seperti manual yang tak pernah dibaca dan terselip di kartu garansi sejak mesin cuci atau kulkas di antar ke pembeli. Saat kerusakan muncul, baru pemiliknya kelabakan.

“Makan seketemunya” versi generasi milenial ini, mengingatkan saya pada kisah pisau yang dipakai bukan hanya untuk memotong, tapi sudah biasa buat apa saja, mulai dari mencongkel saringan wastafel yang mampet, hingga membuka tutup botol kecap.

Lebih sarkastik lagi, mirip seperti sendal jepit pengganjal rem metromini atau angkot yang semestinya sudah jadi rongsokan besi tua.

Peruntukan yang tidak jelas, membuat manusia merendahkan produk budaya bernama makanan, yang mestinya makin lama nilai pemahamannya makin tinggi.

Makan berbudaya, jauh berbeda dengan makan hanya sebagai ganjal rasa lapar. Berbudaya bukan soal pakai piring dan sendok garpu, tapi tentang isi piringnya, dengan proses memilih – meracik – dan mengolah yang dipandu kesadaran tentang hasil ke depannya mau bagaimana.

Baca juga: Hoax Kesehatan Itu Hasil Berbagi dari yang Tidak Sehat

Kebablasan dengan paham praktis, semua proses ini dipercayakan kaum milenial ke pihak kedua: entah industri atau orang lain yang menyediakan jasa pembuatan makanan asal jadi, yang penting enak. Lebih bagus lagi jika instagramable. Itu baru soal apa yang dimakan.

Waktu makan? Lebih parah lagi. Bangun siang, tak jelas itu sarapan yang sudah terlewat atau menjelang makan siang.

Begitu pula makan siang akan bergeser menjadi sore yang rupanya bisa jadi seperti kudapan. Dan makan malam menjadi larut sekali, pengisi perut sambil mengerjakan tugas – yang dikala ‘tanggal tua’ hanya berupa makanan instan dan kopi kekinian yang berisi emulsifier.

Itu semua disejajarkan dengan jam kerja generasi milenial yang katanya ‘tidak kenal ke-ajeg-an waktu’. Kerja bisa fleksibel, baik waktu mau pun tempatnya. Padahal tubuh tidak bisa diajak se-fleksibel itu.

Baca juga: Antara Tom Cruise, Badan Bagus dan Mood Oke Terus

Mengasuh generasi terbaru ini ternyata tidak mudah. Sebab, yang mengasuh pun tidak punya polanya apalagi ‘manual’nya.

Bahkan, yang mengasuh alias orangtua cenderung menjadi permisif. Takut jika anaknya kabur atau mengamuk kalau permintaan atau tuntutan si anak tidak dipenuhi. Mulai dari makanan hingga rokok.

Itu awalnya. Lama-kelamaan ada anak yang merasa berhak mengambil warisan sebelum orangtuanya meninggal. Chaos kehidupan yang tadinya tidak ada sama sekali.

Kebingungan yang dimulai bisa jadi dari ketidakmampuan membedakan mana makan benar di jam makan yang benar dan mana kudapan. Hingga akhirnya menjadi kebingungan untuk membedakan mana yang prioritas, dan mana yang di luar batas. Yuk, mulai temukan kembali ‘manual’nya.

 Baca juga: Ketika Manual Hidup Sehat Ketlingsut

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.