Perempuan Milenial, Kontributif atau Skeptis?

Kompas.com - 08/03/2019, 18:06 WIB
Aktivis perempuan melakukan aksi di depan Istana Negara, Jakarta, Jumat (8/3/2019). Dalam aksi tersebut mereka menuntut agar RUU Penghapusan Kekerasan Seksual terhadap perempuan segera disahkan.ANTARA FOTO/RIVAN AWAL LINGGA Aktivis perempuan melakukan aksi di depan Istana Negara, Jakarta, Jumat (8/3/2019). Dalam aksi tersebut mereka menuntut agar RUU Penghapusan Kekerasan Seksual terhadap perempuan segera disahkan.

DALAM hal partisipasi, perempuan Indonesia dari tahun ke tahun menunjukkan progres signifikan, khususnya dalam bidang pendidikan dan sektor profesional.

Dalam Sensus Nasional 2015, capaian tingkat pendidikan perempuan Indonesia meningkat. Total capaian pendidikan di pedesaan dan perkotaan mencapai 7,92 persen. Jika dirinci, untuk perempuan perkotaan sebesar 11,80 persen dan perempuan pedesaan mencapai 3,86 persen (Badan Pusat Statistik, Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035).

Kendati persentase capaian perempuan pedesaan tergolong kecil, tetapi peningkatan yang ditunjukkan data capaian perempuan pada pendidikan tinggi di pedesaan dari 2009 sampai 2015 terbilang stabil, terus meningkat walau hanya dalam kisaran sekitar 0,15 persen.

Adapun di perkotaan, jumlah partisipasi capaian pendidikan antara perempuan dan laki-laki tidak terpaut jauh. Sejak 2009 hingga 2015, selisih paling tinggi hanya 1,4 persen yang terjadi pada 2010. Ini membuktikan kesetaraan di bidang pendidikan antara laki-laki dan perempuan hampir terjadi di kota-kota besar di Indonesia.

Kabar baik lainnya, data Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan terus meningkat. Pada tahun 1980 sebesar 32,43 persen, tahun 1990 sebesar 38,79 persen, dan TPAK perempuan tahun 2014 sudah menjadi 50,22 persen.

Ada lagi survei dari lembaga konsultan Amerika Serikat, Grant Thornton, (2016) menyebutkan bahwa Indonesia menduduki peringkat ke-6 di dunia dalam jumlah perempuan yang menjabat sebagai manajer senior dengan presentase 36 persen. Peringkat pertama diduduki oleh Rusia (45 persen), kedua Filipina (39 persen), Lithuania (39 persen), Estonia (37 persen), dan kelima Thailand (37 persen).

Perempuan sebagai subyek pembangunan

Fenomena kenaikan partisipasi perempuan dalam dunia pendidikan dan dunia pekerjaan sangat menarik bila dikaitkan dengan bonus demografi yang akan dialami Indonesia.

Selama tahun bonus demografi, yang puncaknya diprediksi pada 2030, penduduk kelompok usia ketergantungan akan berada pada persentase rendah sehingga perekonomian Indonesia berpotensi berkembang lebih cepat.

Asumsinya, kenaikan angka partisipasi perempuan dalam pendidikan tinggi bisa mendukung fenomena bonus demografi yang terjadi di Indonesia.

Dengan catatan, partisipasi perempuan yang merupakan bagian dari generasi milenial (lahir awal 1980-an sampai awal 1990-an) dalam lingkup dunia professional memang nyata. Sebab, tidak semua perempuan punya peran nyata di dunia profesional.

Halaman:
Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X