Kompas.com - 09/03/2019, 22:12 WIB
Ilustrasi bunuh diri asiandelightIlustrasi bunuh diri
Editor Wisnubrata

Hanya saja tergantung pada apa yang dipercaya, maka tubuh dan pikirannya pun akan mengikuti. Bagi mereka yang kondisi mentalnya rentan, keputusasaan yang luar biasa membuat mereka tidak lagi dapat melihat jalan keluar yang lain.

Jika mereka percaya bahwa dengan bunuh diri, masalah dan rasa sakit mereka akan hilang, maka tubuhnya pun akan ikut merespon dengan sikap apatis — layaknya bom waktu yang menghitung mundur.

“Untuk alasan yang tidak kita pahami sepenuhnya, beberapa orang mengalami keputusasaan dan rasa sakit yang begitu dalam sehingga mereka percaya bahwa mereka lebih baik mati saja,” kata Dr. John Campo, kepala psikiatri dan kesehatan perilaku di The Ohio State University Wexner Medical Center, dilansir dari Live Science.

Bukan penyakit, kenapa bunuh diri bisa “menular”?

Seperti yang telah dijelaskan di atas, respon stres setiap orang berbeda-beda. Risiko “tertular” bunuh diri akan semakin meningkat khususnya jika seseorang sebelumnya sudah memiliki faktor risiko tertentu dan berada pada situasi-kondisi yang dapat memicunya.

Misalnya, tinggal bersama atau merawat seseorang yang depresi. Sebuah penelitian dari National Health Institute of Mental Health menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal bersama orangtua yang depresi berisiko hingga tiga kali lipat lebih tinggi untuk “tertular” depresi dan dua hingga enam kali lipat lebih rentan untuk mengembangkan ketergantungan pada alkohol dan obat-obatan terlarang.

Rasa duka yang tak kunjung mereda setelah ditinggal bunuh diri seseorang yang dicintai juga dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami depresi dan ketergantungan alkohol dan/atau obat-obatan sebagai cara pelampiasan kesedihan. Depresi dan penyalahgunaan zat adalah faktor risiko terbesar yang mendorong keinginan bunuh diri.

Ambil contoh kasus bunuh diri Chester Bennington dan Chris Cornell. Kedua sosok pemusik ini sebetulnya sudah sejak lama berjibaku dengan gangguan mental yang diidap masing-masing.

Chester Bennington sejak lama diketahui berjuang dengan depresi dan ketergantungan narkoba dan alkohol. Sementara itu, Chris Cornell diketahui mengidap gangguan kecemasan yang disertai dengan penyalahgunaan obat.

Tindak bunuh diri Chester Bennington memang didasari oleh gangguan depresi yang telah menggerogotinya selama bertahun-tahun. Begitu pula dengan Chris Cornell.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.