Wajib Tahu, Manfaat dan Efek Negatif Diet Puasa

Kompas.com - 12/03/2019, 16:00 WIB
Ilustrasibopav Ilustrasi

KOMPAS.com - Diet puasa intermiten termasuk pola makan untuk menurunkan berat badan yang masih populer.

Pola diet ini bukan mengatur apa yang kita makan seperti pola diet lainnya tetapi membatasi kapan waktu yang tepat untuk makan.

“Pada dasarnya puasa intermiten berarti kita hanya mengonsumsi air putih selama periode puasa, tetapi banyak varian memperbolehkan herbal, teh hijau dan kopi, tanpa gula atau pemanis,” kata Jason Fung, diet.

Tetapi, ada banyak metode berbeda untuk puasa intermiten, dan penelitian masih dilakukan untuk mengetahui metode apa yang paling efektif.

Secara umum, puasa intermiten mengacu pada periode puasa yang berlangsung kurang dari 24 jam tetapi dilakukan lebih sering, dari harian ke mingguan.

“Rejimen yang paling populer adalah 16: 8, puasa 16 jam lalu memiliki waktu makan delapan jam — katakanlah, jam 11 pagi sampai 7 malam — dan Anda dapat melakukannya hampir setiap hari dalam seminggu,” kata Fung.

Baca juga: Perhatikan, 6 Efek Samping Diet Puasa dan Solusinya

Pola populer lainnya adalah berpuasa di bawah 24 jam, misalnya berpuasa mulai dari jam makan malam hingga ke makan malam berikutnya.

Jadi, ini kadang-kadang disebut satu kali makan sehari. Pola diet ini bisa dilakukan dua atau tiga kali per minggu, tetapi sebagian orang melakukannya setiap hari.

Lalu, ada metode puasa atau 5: 2, di mana kita makan secara normal selama lima hari dalam seminggu dengan jumlah kalori dikurangi hingga 25 persen dari asupan normal. Namun, pada dua hari berikutnya kita melakukan puasa.

IlustrasiShutterstock Ilustrasi

Puasa untuk menurunkan berat badan

Segala jenis puasa intermiten akan memengaruhi cara tubuh bekerja. Itu sebabnya puasa sering digunakan sebagai teknik penurunan berat badan.

"Pada dasarnya, Anda mengonsumsi lebih sedikit kalori, sehingga Anda menurunkan berat badan," kata ahli gizi Natalie Allen.

Halaman:



Close Ads X