Kompas.com - 13/03/2019, 18:23 WIB
Warga mengangkat poster bertulis penolakan terhadap hoaks jelang Pemilu 2019 saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (3/2/2019). Aksi tolak hoaks tersebut digelar untuk mewujudkan pesta demokrasi yang aman dan damai. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj. Hafidz Mubarak AWarga mengangkat poster bertulis penolakan terhadap hoaks jelang Pemilu 2019 saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu (3/2/2019). Aksi tolak hoaks tersebut digelar untuk mewujudkan pesta demokrasi yang aman dan damai. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/wsj.

KOMPAS.com - Masyarakat saat ini sedang menghadapi darurat penyebaran berita bohong alias hoaks yang memecah belan dan bisa mengancam persatuan bangsa.

Dengan minat baca yang rendah tapi gemar browsing di media sosial, banyak orang yang punya kebiasaan sebar dulu berita, konfirmasi belakangan. 

Kita pun dituntut untuk lebih bijak dan kritis dalam menerima setiap informasi. Jauhi konsep trigger happy (hanya berbagi berita tanpa terlalu banyak merinci) yang telah menjadi kebiasaan buruk sebagian besar pengguna media sosial di Indonesia. 

Hasil riset Masyarakat Telematika menyebutkan, sebanyak 44,3 persen responden menyatakan menerima hoaks setiap hari. Bahkan, 17,2 persen responden menerima lebih dari satu hoaks per hari. 

Jenis hoaks terbanyak adalah tentang isu sosial politik (918 persen),  isu SARA (88,6 persen), dan juga tentang kesehatan (41,2 persen). Karena itu, 75,9 persen responden menilai hoaks mengganggu kerukunan warga.

Baca juga: Ini Cara Ridwan Kamil Bedakan Berita Hoaks

Menurut Head of Business Development Baca Berita (BaBe), Shelly Tantri S, kehadiran berita hoaks mungkin ditemui  pengguna media sosial setiap hari. Namun, ada beberapa kiat yang dapat membantu kita mengidentifikasi informasi yang salah ketika menemukan berita atau pesan apa pun di media sosial:

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

1. Cek judul berita

"Pastikan berita yang kita baca tidak mengandung topik sensasional, atau tidak masuk akal. Seperti contoh, ketika gempa bumi terjadi, sudah pasti bahwa berita yang mengatakan gempa susulan dengan skala lebih besar dapat dipastikan adalah berita bohong, karena gempa tidak bisa diprediksi sama sekali." kata Shelly

2. Cek sumber berita

Pastikan berita yang kita baca berasal dari sumber yang tepercaya, entah artikel tersebut berasal dari penerbit yang sangat terkenal, atau ditulis oleh seorang ahli. 

Halaman:


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.