Dampak Serius Sakit Gigi pada Anak

Kompas.com - 20/03/2019, 20:11 WIB
Sikat gigi siswa dan siswi SDN Negeri Gunung 01, Jakarta Selatan. KOMPAS.com/Nabilla TashandraSikat gigi siswa dan siswi SDN Negeri Gunung 01, Jakarta Selatan.

"Bayangkan kalau sakit gigi ini memengaruhi self esteem, lalu datang kesempatan tapi terpaksa hilang karena sakit gigi. Kalau terjadi berulang kali tentu akan berpengaruh terhadap dewasa nanti," tuturnya.

Baca juga: 5 Tips Menyimpan Sikat Gigi agar Tak Jadi Sarang Kuman

Pencegahan

Survei Pepsodent menunjukkan bahwa hanya 21 persen anak yang diajak orangtuanya memeriksakan gigi ke dokter minimal enam bulan sekali.

Dari 79 persen anak yang tidak rutin memeriksakan gigi ke dokter, 70 persennya mengalami sakit gigi.

Untuk mencegah terjadinya masalah gigi, dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan di dokter gigi setidaknya dua kali setahun atau enam bulan sekali.

Orangtua juga diharapkan mampu mengingatkan anak dan menanamkan kebiasaan gosok gigi dua kali sehari sejak dini.

Sikat gigi tentunya juga harus dilakukan dengan cara yang benar.

"Karena tidak hanya berpengaruh terhadap kesehatan di rongga mulut dan tubuh saja, mata orangtua, anak dan stakeholder harus terbuka bahwa ada efek-efek lain yang dampaknya jauh lebih besar," kata Mirah.

Baca juga: Rajin Sikat Gigi, Kok Bau Mulut?

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X