Kompas.com - 08/04/2019, 11:00 WIB
. SHUTTERSTOCK.

KOMPAS.com - Pola makan tidak sehat ternyata berdampak lebih buruk daripada yang mungkin selama ini kita duga.

Menurut sebuah studi terbaru di Lancet, pola makan tidak sehat berkontribusi lebih besar terhadap kematian, daripada rokok atau tekanan darah tinggi.

Studi tersebut menganalisa kebiasaan makan pada sejumlah orang dewasa berusia 25 tahun ke atas. Riset ini mempelajari temuan  mulai tahun 1990 hingga 2017 di 195 negara.

Para peneliti kemudian membandingkan bagaimana pola makan yang buruk berdampak pada kemungkinan kematian dini.

Di tahun 2017, peneliti menemukan 11 juta (22 persen) orang di dunia meninggal, karena pola makan tidak sehat.

Baca juga: Ironi Korelasi antara Ekonomi dan Literasi Gizi

Lebih spesifik, dari kematian ini, 9,5 juta di antaranya disebabkan penyakit kardiovaskular.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lalu, lebih dari 900 ribu karena pola makan terkait kanker, lebih dari 330.000 karena diabetes, dan lebih dari 136 ribu karena penyakit ginjal.

Di sisi lain, faktor kematian yang selama ini dikenal umum, seperti darah tinggi dan konsumsi rokom berhubungan dengan kematian terhadap 10,4 juta dan 8 juta orang.

Para peneliti juga mengungkap, pola makan tidak sehat berdampak pada usia hidup orang orang disabilitas.

Berangkat dari temuan itu, penulis studi sekaligus Asisten Profesor di Institute for Health Metrics and Evaluation, University of Washington, Ashkan Afshin mengungkapkan pandangannya.

Dia menegaskan, pola makan tidak sehat adalah faktor mematikan bagi semua orang.

Lalu, apa yang disebut pola makan tidak sehat?

Ada tiga hal utama yang paling memungkinkan menyebabkan kematian dini.

Pertama, konsumsi garam tinggi (lebih dari 3 gram sehari). Kedua, rendah asupan biji-bijian utuh (kurang dari 125 gram per hari).

Terakhir, rendahnya konsumsi buah-buahan (minimal 250 gram per hari).

Selain itu, pola makan rendah kacang, biji-bijian, dan sayuran juga menjadi penyebab utama lainnya.

Baca juga: Minuman Bersoda Picu Risiko Kematian Dini, Simak Alasannya

Faktanya, konsumsi kacang-kacangan memiliki gap terbesar, antara jumlah konsumsi optimal dengan angka sebenarnya.

Kebanyakan orang hanya mengonsumsi sekitar 12 persen dari yang direkomendasikan, yaitu 20,5 gram.

Sebaliknya, konsumsi daging yang diproses justru 90 persen lebih tinggi daripada yang direkomendasikan.

Pola makan tidak sehat bisa merusak tubuh lewat berbagai cara. Salah satunya, meningkatkan risiko obesitas (yang biasanya diikuti risiko penyakit lainnya seperti penyakit jantung).

Terlalu sedikit atau terlalu banyak mengonsumsi nutrisi tertentu juga bisa merusak kesehatan dengan cara lainnya.

Pola makan minim buah-buahan, misalnya, kerap dikaitkan dengan peningkatan risiko stroke dan penyakit kardiovaskular.

Sementara, pola makan tinggi sodium bisa meningkatkan risiko kanker perut, dan pola makan rendah serat bisa meningkatkan risiko kanker usus.

Jadi, membatasi sodium atau gula tambahan memang penting.

Namun, secara luas, hal yang sama pentingnya adalah memastikan pilihan-pilihan makanan yang baik dengan bijak.

Caranya, dengan meningkatkan konsumsi buah-buahan, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, dan sayur-sayuran.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.