Angkat Beban Bikin Lansia Berusia Lebih Panjang

Kompas.com - 15/04/2019, 10:24 WIB
Para orang lanjut usia berolahraga dengan memegang balok barbel kayu di sebuah kuil di Tokyo pada 19 September 2016 untuk merayakan Hari Penghormatan Orang Usia Lanjut di Jepang.AFP PHOTO/KAZUHIRO NOGI Para orang lanjut usia berolahraga dengan memegang balok barbel kayu di sebuah kuil di Tokyo pada 19 September 2016 untuk merayakan Hari Penghormatan Orang Usia Lanjut di Jepang.

KOMPAS.com - Hampir semua orang meyakini bahwa olahraga merupakan resep untuk sehat dan berumur panjang.

Sebuah studi terbaru bahkan mengungkapkan, efek usia yang lebih panjang bisa didapatkan oleh orang lanjut usia (lansia) yang rajin melakukan angkat beban di pusat kebugaran.

Namun, para lansia disarankan mengangkat beban dengan cepat secara moderat dan menghindari beban terlampau berat.

Mereka yang menggunakan beban terlalu berat justru lebih pendek usianya.

Para ilmuwan dari Brazil meneliti kekuatan otot 4.000 orang berusia antara 40 dan 85 tahun selama enam tahun.

Pada setiap partisipan diteliti berapa kali mereka mampu mengangkat beban, berangsur-angsur dari beban ringan ke yang lebih berat dengan posisi lurus ke atas. Ini dilakukan pada jangka waktu tertentu.

Posisi angkat beban lurus ke atas membuat para partisipan memegang beban dari ketinggian pinggang dan mengangkatnya hingga ke bahu dengan siku menghadap ke luar.

Para pakar dari Exercise Medicine Clinic di Rio de Janeiro mengatakan, gerakan tersebut umum dilakukan pada kegiatan sehari-hari, seperti mengangkat kantong belanjaan.

Baca juga: Angkat Beban atau Kardio, Mana yang Harus Dilakukan Lebih Dulu?

Para peneliti studi kemudian mengecek hasilnya 6,5 tahun kemudian. Hasilnya, 247 pria (10 persen) dan 75 wanita (6 persen) meninggal.

Hasil tersebut kemudian dipresentasikan pada konferensi kardiologi dan dianalisis lebih mendalam. Disimpulkan bahwa mereka yang memiliki kemampuan angkat beban berusia lebih panjang.

Namun, mereka yang mengangkat beban di pusat kebugaran dengan beban paling berat justru 13 kali lebih berisiko meninggal.

Penulis studi Professor Claudio Gil Araújo mengatakan, para dokter seharusnya mempertimbangkan untuk mengukur kekuatan otot pasien yang berusia senja dan lebih menyarankan latihan kekuatan dalam rutinitas olahraga.

Otot akan berangsung-angsur melemah seiring dengan bertambahnya usia. Hal ini berkontribusi atas kematian pada orang-orang berusia di atas 40 tahun.

Halaman:



Close Ads X