Mengapa Banyak Remaja Unggah Video "Bullying" di Medsos?

Kompas.com - 15/04/2019, 20:36 WIB
Ilustrasi media sosialViewApart Ilustrasi media sosial

JAKARTA, KOMPAS.com - Belum lama ini publik dihebohkan oleh pengeroyokan siswi SMP di Pontianak oleh geng siswi SMA. Kisah bullying tersebut beredar luas melalui media sosial.

Sejumlah kalangan masyarakat dibuat kesal karena para pelaku sempat mengunggah video boomerang dari Instagram sesuai melakukan pengeroyokan tersebut. 

Fenomena ini sebenarnya bukan kali pertama. Masyarakat pernah melihat beberapa video pengeroyokan atau perundungan (bullying) yang kemudian diunggah ke media sosial.

Sebetulnya, apa yang menyebabkan sebagian orang tergugah untuk mengunggah konten bullying ke media sosial?

Bullying sebetulnya bukan hal baru, namun penelitian di bidang psikologi menyebutkan fenomena tersebut sudah ada sejak sekitar tahun 1990an.

Dijelaskan oleh psikolog dari Pion Clinician, Patricia Yuannita M.Psi, perundungan semakin berkembang pesat seiring dengan perkembangan ekonomi dan teknologi.

"Kedua hal ini benar-benar sangat memicu orang-orang untuk survive di lingkungannya," kata Yuannita dalam sebuah acara diskusi di Nutrifood Inspiring Center, Jakarta Pusat, Senin (15/4/2019).

Perempuan yang akrab disapa Yoan itu menambahkan, dari sisi tahapan perkembangan, anak remaja sedang berada pada tahap perkembangan identitas dan juga kegamangan dalam pencarian identitas.

Lingkungan menentukan eksistensi mereka. Karena pada generasi mereka eksistensi banyak ditentukan dari media sosial, maka media-media sosial lah yang menjadi sasaran untuk menunjukkan identitas mereka.

Namun, situasi menjadi tidak terkendali karena perkembangan teknologi yang pesat tidak diimbangi dengan cara menyikapi yang baik pula.

Baca juga: 5 Fakta Kasus Pengeroyokan Siswi SMP di Pontianak, AD Sudah Pulang ke Rumah Hingga Tersangka Jadi Korban Bully

Di sisi lain, orangtua generasi mereka kebanyakan merupakan generasi yang masih mempelajari teknologi.

"Perundungan adalah keinginan mencari kekuatan lebih. Yang menyebabkannya adalah ingin menunjukkan identitas dan apa yang ingin orang tangkap," kata Yoan.

Keinginan membagi identitas tersebut semakin diperkuat dengan kesan pentingnya memperoleh 'views' atau interaksi lainnya yang tinggi di media sosial.

"Sekarang ini, views dirasa lebih penting daripada moral. Ketika berpikir akan banyak yang lihat ketika di-upload, bagi mereka itu sesuatu yang berarti. Apalagi kalau jadi banyak yang follow atau ada orang-orang tertentu yang mereka ingin dilihat Instagram story-nya," kata dia.

Baca juga: Kasus Kekerasan Siswi SMP di Pontianak dari Kacamata Psikologi Remaja

Orangtua bersalah?

Banyak masyarakat yang kemudian mempertanyakan pola asuh orangtua para pelaku yang menyebabkan anak-anaknya berbuat hal brutal.

Namun, Yoan menilai, pola asuh adalah pembahasan yang sebetulnya sudah terlalu luas untuk kasus bullying ini. Apalagi jika dikerucutkan dengan perlakuan memanjakan (permisif) atau abai (neglect) dari orangtua.

Menurutnya, orangtua mungkin saja belum punya skill atau kesiapan untuk menghadapi era yang berkembang pesat ini.

"Karena dunia sekarang berkembangnya sangat berbeda. Orangtua juga tidak punya skill untuk mendidik kalau anaknya menjadi pelaku atau korban perundungan," ucap Yoan.



Close Ads X