Kompas.com - 28/04/2019, 14:14 WIB
Diajeng Lestari CEO HIJUP saat hadir pada pembukaan cabang toko HIJUP di Kota Kediri, Jawa Timur, Sabtu (27/4/2019). KOMPAS.com/M.AGUS FAUZUL HAKIMDiajeng Lestari CEO HIJUP saat hadir pada pembukaan cabang toko HIJUP di Kota Kediri, Jawa Timur, Sabtu (27/4/2019).

KEDIRI, KOMPAS.com- Pasar busana muslim saat ini terus mengalami peningkatan dan itu menjadi tantangan tersendiri bagi para pedagang untuk bersaing secara sehat.

Chief Executive Officer e-commerce muslim fashion Hijup Diajeng Lestari mengatakan, ia mensiasati persaingan itu dengan menciptakan peluang-peluang pasar melalui keberagaman produk karya.

Dia mencontohkan bagaimana para desainer yang bekerjasama dengan Hijup, mempunyai keberagaman dan keunikan karya masing-masing.

"Jadi masing-masing desainer mempunyai karakter brand-nya masing-masing. Justru itu yang membuat fashion lebih maju. Kalau semua sama, nggak akan maju," ujar Diajeng Lestari saat membuak toko Hijup di Kota Kediri, Jawa Timur, Sabtu (27/4/2019).

Selain itu dalam dunia usaha, dia menjelaskan, memang dibutuhkan banyak pemain untuk bisa berkembang. Bukan berarti banyaknya pemain itu untuk saling bersaing yang mematikan, tetapi justru untuk saling melengkapi.

Dia menganalogikan sebagai sebuah hutan yang mempunyai keberagaman tumbuh-tumbuhan yang pada akhirnya membentuk suatu ekosistem yang saling melengkapi antara satu dan lainnya.

"Jadi akan terbentuk suatu ekosistem usaha," imbuhnya.

Dia mengambil contoh bagaimana kota-kota kiblat fashion dunia bekerja. Milan di Italia misalnya, ada sebuah distrik fashion yang menjadi tempat tumbuhnya brand dunia yang kemudian menjadi salah satu pendongkrak ekonomi negara.

Dia mempunyai impian untuk menggunakan pola yang sama untuk diadopsi di Indonesia sehingga usaha busana muslim di Indonesia menjadi lebih berkembang pesat melalui ekosistem yang saling melengkapi.

Salah satunya itu menurutnya bisa dikembangkan di Kota Kediri. Sebab, di sepanjang jalur Jl. Joyoboyo di mana toko Hijup berdiri, banyak juga toko-toko busana muslim lainnya yang bisa saling memberi warna.

Terbuka untuk desainer lokal

Diajeng Lestari mengatakan, Hijup senantiasa terbuka dengan ide dan gagasan yang bermuara pada pengembangan Indonesia sebagai pusat hijab dunia. Dukungan pengembangan itu bisa datang dari para desainer yang ada dari Sabang sampai Merauke, juga Kediri.

"Jadi misalnya ada desainer potensial yang bermunculan, kita sangat terbuka," pungkasnya. 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X