Kompas.com - 30/04/2019, 12:47 WIB

KOMPAS.com - Karyawan yang terbiasa bekerja di belakang meja umumnya memiliki masalah dengan berat badannya, termasuk pria bernama Jason Phelps.

Di masa remaja kita terbiasa hidup aktif. Namun ketika dewasa tiba, gaya hidup kita berubah drastis.

Pekerjaan terkadang membuat kita terjebak dengan gaya hidup pasif. Ini yang membuat kita secara tak sadar mengalami lonjakan berat badan.

"Saya merasa berat badan perlahan naik. Tapi, mulai di akhir usia dua puluhan, tingkat aktivitas saya menurun ketika saya memulai karir saya," ucapnya.

Pria 40 tahun ini bekerja sebagai manajer konsultan pajak dan akuntansi di Ann Arbor, Michigan.

Pola makan buruk dan kurangnya olahraga adalah dua faktor yang membuat berat badannya melonjak drastis.

Berat badannya memang naik secara lambat. Oleh karena itu, ia cederung mengabaikannya.

"Tapi, kenaikan dua hingga empat kilo per tahun membuat berat badan sangat tinggi selama 15 tahun," ucapnya.

Phelps menduga berat badannya naik hingga titik tertinggi 181 kilogram. Saat menimbang berat badannya di bulan Februari 2018, ia mendapai bobot tubuhnya menjadi 179 kilogram.

"Hasil timbangan itu membuatku takut. Aku merasa bertekad untuk melakukan perubahan," ucapnya.

Saat itu Pheps berusia 39 tahun dan tak ingin berat badannya melebihi 200 kilogram saat berulang tahu ke 40.

Sebelumnya, ia pernah mendengar tentang diet puasa intermiten, pola diet yang membatasi waktu makan dengan "jendela" makan tertentu, yang diklaim efektif untuk banyak orang.

Sejak saat itu, dia memulai akhir pekannya dengan berpuasa selama 16 jam sehari, tepat di hari Sabtu dan Minggu.

Melihat hasilnya yang begitu efektif, ia melanjutkan puasa yang dijalaninya dengan model 16:8, yaitu berpuasa 16 jam dan makan dalam kurun waktu delapan jam.

Usaha tersebut membuatnya kehilangan berat badan sekitar 0,5 hingga 1,5 kilogram setiap minggu.

Baca juga: Diet Puasa dan Ikuti Olahraga di Instagram, Wanita Ini Turun 45kg

Seiring waktu, dia juga menjadi lebih sadar akan apa yang dia makan, dan bagaimana makanan tertentu mempengaruhi suasana hatinya.

"Saya juga menjadi lebih sadar akan perbedaan antara kelaparan fisik, dan hanya 'lapar' secara mental, yang hampir selalu disebabkan oleh kebosanan, rutinitas, stres, atau mengidam untuk jenis makanan tertentu," katanya.

Pheps mulai belajar untuk mengabaikan pikiran yang membuatnya merasa lapar. Bahkan, dalam satu jam perasaan lapar itu hilang.

Setelah dua minggu memulainya, ia mengalami patah kaki yang membuat berat badannya kembali naik.

"Itu menakutkan karena saya ingat patah kaki saya di usia dua puluhan, dan menambah berat badan setelah itu karena aktvitas fisik yang berkurang," katanya.

"Tapi kali ini berbeda — aku bertekad untuk mengubah kelemahan menjadi kekuatan," tambahnya.

Kemudian, ia memutuskan untuk membeli heavy bag atau sansak tinju dan berolahraga dengan alat tersebut setiap pagi meski kakinya dalam kondisi cedera.

Setelah kakinya sembuh, dia terus melakukan latihan kardio dengan intensitas tinggi di pagi hari.

Ia juga berolahraga di gym untuk melakukan olahraga angkat beban, dengan fokus pada latihan menggunakan barbell.

Semua usaha itu membuat berat badannya turun drastis dalam waktu singkat. Selama rentang waktu satu tahun, ia berhasil menurunkan berat badan hingga 54 kilogram.

Namun, ia masih ingin menurunkan berat badannya 13 kilogram lagi demi mencapai tubuh ideal yang diinginkannya.

"Saya bahkan tidak bisa menjelaskan seberapa baik perasaan saya. Tingkat energi keseluruhan saya jauh lebih tinggi. Mobilitas dan kekuatan saya sangat meningkat," katanya.

Untuk mencapai tujuan yang belum tercapai, Phelps terus menjaga motivasi dalam dirinya.

Bagi Phelps, konsistensi dan kesabaran adalah dua faktor terpenting untuk mendapatkan tubuh ideal.

Menurutnya, tidak semua pola diet berhasil untuknya. Namun, diet puasa intermiten ini telah sukses ia buktikan khasiatnya.

Tidak semua orang cocok dengan pola diet seperti yang dijalani Phelps. Ada orang yang cocok dengan diet keto, bekerja sama dengan pelatih, atau menerapkan penghitungan kalori.

"Kita harus memahami bahwa perubahan itu tidak akan terjadi dalam semalam. Buatlah perubahan kecil di awal sampai menjadi kebiasaan," ucap Phelps.

Setelah hal kecil itu menjadi kebiasaan dan mengalami peningkatan, Phelps mengatakan kita bisa dapat merasakan hasilnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber menshealth
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.