BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou

Cerita Fakhry, Selamat dari Limfoma Berkat Sigap Deteksi Gejala Kanker

Kompas.com - 07/05/2019, 08:02 WIB
Fakhry saat menjalani pengobatan Dok. St. Stamford Modern Cancer Hospital GuangzhouFakhry saat menjalani pengobatan
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Seolah tak mengenal usia, penyakit kanker bisa menyerang siapa saja. Hal tersebut dialami Fakhry (24), seorang pengusaha yang harus berjuang melawan penyakit Kanker Limfoma (Kelenjar Getah Bening) di usia masih muda.

Namun alih-alih bermuram durja, Fakhry lebih memilih melakukan sesuatu, meski awalnya tak mengetahui tubuhnya menyimpan Kanker Kelenjar Getah Bening (Limfoma) stadium 4.

“Awalnya yang saya alami gejala biasa seperti demam dan mudah kelelahan, tapi setelah mengunjungi rumah sakit terdekat barulah disebut gejala Limfoma,” ujar Fakhry kepada Kompas.com.

Sebagai informasi, merujuk data yang dirilis Globocan, platform bagian dari organisasi kesehatan dunia (WHO), menyebut di Indonesia terdapat 35.490 orang terdiagnosis mengidap limfoma selama 5 tahun terakhir. Diantaranya lebih dari 7.500 tutup usia.

Mirisnya, penyebab tingginya kasus tutup usia mayoritas diakibatkan dari keterlambatan deteksi sehingga penyakit kanker sudah berada pada stadium lanjut.

Beruntung bagi Fakhry, berbekal pengalaman dari kerabat dekat yang berhasil sembuh dari ganasnya penyakit kanker, dirinya langsung berangkat ke China untuk mengunjungi St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou.

Di rumah sakit inilah, Fakhry memutuskan untuk melakukan pengobatan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Sebelumnya pada 2012 tante saya mengalami kanker nasofaring stadium 4 dan berhasil membaik setelah berobat di sini,” papar Fakhry.

Mengejar kesembuhan di negeri tirai bambu

Petuah para suksesor mengatakan jika pengalaman orang adalah guru terbaik. Fakhry bercerita jika keputusannya mengikuti jejak dari kerabat dekat merupakan langkah yang tepat. Meski tak pernah menduga harus mengejar kesembuhan hingga ke China.

“Saya memulai sejak November 2017 dan lepas dari pengobatan Maret 2018, ini melebihi ekspektasi saya pribadi,” ucap Fakhry.

Berbicara soal pelayanan, Fakhry juga mengungkapkan kalau ia mendapatkan perlakuan menyenangkan selama menjalani pengobatan.

Berbeda dengan rumah sakit lain, tenaga medis di St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou.rutin menebar energi positif kepada pasien.

Sehingga diakui Fakhry dapat terus menjaga perasaan optimis untuk segera mendapatkan kesembuhan.

“Ada agenda jalan-jalan juga untuk pasien dan keluarga yang disediakan rumah sakit ini. Jalan-jalannya ke tempat-tempat wisata di Guangzhou. Sudah seperti melancong, padahal sedang berobat,” sambung Fakhry.

Menilik proses pengobatannya, Dr Muliono, selaku Health Advisor di kantor perwakilan cabang Jakarta, menyebutkan jika pasien yang bertolak ke St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou diharuskan menetap kurang lebih 2 minggu.

Hal tersebut dilakukan sebagai langkah pertama dan penting demi memberikan penanganan yang berfokus serta metode pengobatan yang tepat untuk pasien.

Fakhry saat mengunjungi kantor perwakilan St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou di Jakarta Dok. St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou Fakhry saat mengunjungi kantor perwakilan St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou di Jakarta
Mengenai metode pengobatan, lanjut Dr Muliono,St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou memiliki 16 metode pengobatan yang jarang ditemui rumah sakit umumnya.

"Prinsip metode pengobatan di sini adalah tertuju ke pusat kankernya, sehingga efek sampingnya tidak banyak dirasakan pasien" tuturnya.

Pemilihan metodenya pun tak sembarang, harus diputuskan oleh tim dokter onkologi tergantung kondisi dan tingkat penyakit si pasien. Tak terkecuali Fakhry yang menerima metode pengobatan Penanaman Biji Partikel (Brachytherapy).

“Pada tubuh Fakhry, dokter menanamkan partikel yang terbuat dari titanium yang hanya berukuran setengah biji beras. Radiasi yang dipancarkan adalah sinar Gamma jarak pendek (radius 1,7 cm) selama 2 bulan berturut-turut. Fungsinya adalah mematikan sel tumor lewat sinar Gamma yang dipancarkan itu dengan minim rasa sakit,” papar Dr Muliono.

Penanaman Biji Partikel (Brachytherapy)Dok. St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou Penanaman Biji Partikel (Brachytherapy)
Tak hanya penanaman biji partikel, metode pengobatan lain yang diterima Fakhry adalah Metode Intervensi (Kemo Bertarget).

Metode tersebut adalah pengobatan kanker minimal invansif melalui proses kateterisasi lewat pembuluh darah langsung pada pusat kanker.

Di bawah alat pencitraan DSA, obat anti-kanker kemudian dimasukkan lewat kateter, dari pembuluh darah arteri di pangkal paha langsung menuju pusat tumor sehingga membuat sel tumor 'mati kelaparan'.

Adapun obat bekerja pada pusat tumor tanpa merusak sel-sel jaringan normal di sekitarnya. Setelah melakukan metode ini, tumor pada tubuh Fakhry mengecil secara signifikan.

Selain metode itu, pada dasarnya Rumah Sakit tersebut juga punya metode lainnya, yakni Metode Pembekuan (Cryosurgery).

Metode itu merupakan metode minimal invasif atau minim luka menggunakan jarum khusus dan alat pencitraan DSA dan perbedaan suhu gas.

Menggunakan gas Argon dengan suhu kurang lebih -160 derajat Celcius untuk membekukan kanker sampai seperti bola es dan menggunakan gas Helium dengan suhu kurang lebih 40 derajat Celcius untuk memanaskan tumor atau kanker.

Dengan perbedaan suhu yang ekstrim ini, sel-sel kanker dapat mati dengan sendirinya tanpa harus mengangkatnya melalui pembedahan besar.

Metode Pembekuan (Cryosurgery)Dok. St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou Metode Pembekuan (Cryosurgery)

“Menggunakan metode pengobatan seperti ini juga dapat mencegah sel kanker tumbuh kembali,” lanjut Dr Muliono.

Lebih dari satu tahun selesai menjalani pengobatan, Fakhry bercerita, jika kondisi fisiknya 100 persen bugar dan tak ada halangan menjalani aktivitas sehari-hari. Termasuk melakoni hobi diving.

“Alhamdulillah sekarang sudah tak ada masalah,” sambung Fakhry.

Menjadi contoh bukti keberhasilan terlepas dari Kanker Kelenjar Getah Bening (Limfoma) stadium 4, lanjut Fakhry, dirinya menitipkan pesan kepada penderita kanker di luar sana untuk jangan pernah menyerah untuk melawan kanker.

“Jangan dibawa stres, happy selalu dan tetap positif karena segala penyakit pasti ada jalan keluarnya,” tutup Fakhry.

Untuk diketahui, St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou adalah rumah sakit kanker terbesar di China bagian selatan. Terbuka untuk pasien manapun, rumah sakit ini memiliki kantor perwakilan di beberapa negara. 

Di Indonesia sendiri, terdapat 3 kantor perwakilanya itu di Jakarta, Surabaya, dan Medan. Di Kantor perwakilan ini, pasien akan dibantu keperluan dalam menjalani pengobatan seperti pelayanan pengurusan visa, tiket dan penjemputan dari bandara ke rumah sakit. 

Selain itu, di rumah sakit juga turut menyediakan layanan penerjemah 24 jam, laundry, dan lainnya.

Untuk kemudahan informasi, pihak rumah sakit menyediakan layanan konsultasi online yang bisa diakses di sini dan call center di nomor +6281297897859 yang juga bisa dijangkau melalui Whatsapp.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.