Makan Berlebih saat Buka Puasa Bikin Gula Darah Melonjak

Kompas.com - 07/05/2019, 12:00 WIB
Kebab, makanan khas Turki menjadi salah satu suguhan dalam hidangan berbuka puasa pada bulan Ramadhan mendatang di Hotel Pullman Jakarta, Kamis (25/4/2019). Di bawah tajuk the Jewel of Ramadan, Pullman menyiapkan program hidangan berbuka puasa bagi pelanggannya, mulai 5-29 Mei 2019. KOMPAS.com/GLORI K WADRIANTOKebab, makanan khas Turki menjadi salah satu suguhan dalam hidangan berbuka puasa pada bulan Ramadhan mendatang di Hotel Pullman Jakarta, Kamis (25/4/2019). Di bawah tajuk the Jewel of Ramadan, Pullman menyiapkan program hidangan berbuka puasa bagi pelanggannya, mulai 5-29 Mei 2019.

JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah menahan lapar dan haus seharian, banyak orang yang tidak memilih makanan secara bijak saat waktu berbuka tiba. Yang diutamakan adalah makanan berat dan minuman manis sebanyak-banyaknya.

Kalap makan ketika berbuka puasa tentu berdampak buruk bagi kesehatan.

Menurut Ketua Pergizi Pangan Indonesia, Prof. Hardinsyah, MS. PhD, makan berlebih bisa menyebabkan gula darah meningkat secara mendadak.

Dampak langsung dari kelebihan atau kekurangan gula darah adalah efek mengantuk. Ketika kita mengantuk, aktivitas penting dan ibadah pun berpotensi dilalaikan.

"Kalau ngantuk saja bisa membuat kita tidak bisa ibadah. Jadi tata cara puasa dan makan harus yang baik dan benar, jangan berlebihan," kata Hardinsyah beberapa waktu lalu di Jakarta.

Untuk membantu tubuh dalam penyerapan glukosa secara maksimal, kita perlu memiliki sensitivitas insulin. Kadar hormon insulin dalam tubuh kita harus dipacu agar meningkat.

Ketika kenaikan gula darah tidak terkendali, lama kelamaan kita beresiko menderita diabetes.

Baca juga: Agar Puasa Lancar, Terapkan 5 Tips Berikut Ini

Makan berlebih juga tidak baik bagi lambung karena dipaksa mencerna makanan melebihi kapasitas yang biasa dicernanya.

"Yang biasa mencerna satu kilo, misalnya, sekarang lebih banyak. Akhirnya terasa sakit, radang lambung dan akan berefek ke tekanan darah, dan sebagainya," ujar Hardinsyah.

Di samping itu, makan berlebih yang berlangsung dalam jangka waktu panjang bisa menyebabkan kegemukan dan obesitas.

Data kesehatan menyebutkan, sebanyak 37,8 persen penduduk remaja dan dewasa Indonesia mengalami kegemukan dan obesitas.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X