Seberapa Sehat Pemanis Alami Rendah Kalori?

Kompas.com - 12/05/2019, 11:00 WIB
,SHUTTERSTOCK ,

KOMPAS.com - Sebagian orang memiliki kegemaran terhadap makanan atau minuman manis (sweet tooth).

Namun, terlalu banyak makanan manis tidak baik bagi kesehatan. Ada risiko obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan penyakit hati berlemak yang mengintai.

Oleh karena itu, sebagian orang beralih ke alternatif pemanis alami rendah kalori.

Namun, hal ini juga perlu diperhatikan, karena beberapa penelitian juga mengkritisi pemanis ini terhadap kesehatan.

Seperti yang diperkirakan para ahli, diabetes akan berdampak pada 642 juta orang di seluruh dunia pada tahun 2040, dan menjadi penyebab kematian nomor tujuh pada 2030.

Bicara soal pemanis alami rendah kalori, stevia adalah salah satu contohnya.

Penjualan stevia bahkan telah melampaui penjualan pemanis buatan, termasuk aspartam, sucralose dan sakarin.

Baca juga: Makan Berlebih saat Buka Puasa Bikin Gula Darah Melonjak

Sementara buah monk adalah pemanis alami yang tak kalah populernya dengan stevia.

Data Nielsen April 2018 menunjukkan, penggunaan buah monk untuk pemanis naik 20 persen dalam makanan seperti sereal dan cemilan nutrisi.

Belum lagi, ada lebih dari 150 persen dalam vitamin dan susu bebas laktosa.

Pemanis rendah kalori pernah menawarkan solusi bagi mereka yang ingin menurunkan konsumsi gula, tetapi tetap menginginkan rasa manis pada makanan atau minuman mereka.

Namun, muncul kekhawatiran bahwa pemanis rendah kalori tidak mampu membantu menjaga berat badan.

Bahkan, pemanis rendah kalori dapat menyebabkan penambahan berat badan, sindrom metabolik, dan tekanan darah tinggi, dalam penggunaan terus-menerus.

Halaman:


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X