Memaafkan dan Dampak Buruk dalam Kehidupan Rumah Tangga

Kompas.com - 24/05/2019, 15:00 WIB
Ilustrasi pasanganDragonImages Ilustrasi pasangan

KOMPAS.com - Nasihat orang tua selalu menyarankan kita untuk memaafkan dan melupakan kesalahan orang lain, demi ketentraman hati.

Nampaknya, nasehat serupa tak memiliki efek yang ampuh jika diterapkan dalam kehidupan rumah tangga.

Sebab, riset di University of Tennesse membuktikan, pasangan yang mendapatkan maaf atas perilaku negatifnya cenderung terus mengulangi perbuatan serupa.

Baca juga: Wanita, Berhentilah Minta Maaf untuk 3 Hal Ini

Riset dilakukan dengan meneliti 135 pasangan yang baru saja menikah.

Mereka diminta untuk membuat catatan harian mengenai interaksi mereka, dan mencatat apakah pasangan mereka memaafkan perilaku mereka yang tak menyenangkan.

Hasil riset membuktikan, orang yang mendapatkan maaf dari pasangannya hampir dua kali lipat kembali melakukan hal buruk pada hari berikutnya.

Baca juga: Agar Tak Menyakiti Pasangan, Hindari 7 Kalimat Ini

"Ada satu penjelasan yang masuk akal."

"Memaafkan memungkinkan seseorang kembali melakukan hal negatif, yang pada akhirnya merusak hubungan," kata James McNulty, selaku pemimpin riset.

Namun, terapis keluarga Kay Francis mengatakan, kesimpulan ini bukan berarti kita tak boleh memaafkan kesalahan pasangan.

Sebaliknya, kita harus menghadapi perilaku negatif dan berurusan dengan penyebab atau motivasi yang melatarbelakangi hal tersebut, sebelum memaafkan pasangan.

"Jika kita memaafkan perilaku buruk pasangan tanpa membicarakannya, maka maaf yang kita berikan kepada mereka akan sia-sia belaka," ucap Francis.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X