Kompas.com - 29/05/2019, 16:00 WIB
Ilustrasi anak-anak THINKSTOCKS/DRAGONIMAGESIlustrasi anak-anak

KOMPAS.com - Kerusakan alam ternyata memiliki konskuensi seumur hidup bagi kesehatan mental kita.

Menurut penelitian terbaru, hidup di sekitar ruang hijau atau dengan kata lain dekat dengan alam, membuat kesehatan mental naik secara konsisten.

Manfaat tersebut juga bisa bertahan seumur hidup.

Riset ini merupakan salah satu studi epidemiologis pertama yang menunjukkan hubungan antara kurangnya kontak dengan alam di masa kanak-kanak dan masalah mental di usia dewasa.

Riset dilakukan oleh peneliti di Barcelona Institute for Global Health dengan menganalisis data dari 3.600 orang di empat negara Eropa.

Hasil riset membuktikan, pengalaman di masa kanak-kanak, terkait dengan kecemasan dan depresi di masa dewasa.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Wilma Zijlema, koordinator riset, mengatakan riset ini menunjukkan pentingnya ruang hijau dan biru (lingkungan air dan tanah).

Baca juga: Pangeran William Gandeng Para Selebritas demi Kesehatan Mental

Hal itu tak hanya bermanfaat pada penanaman sikap cinta alam tetapi juga pada kesehatan psikologis di masa dewasa.

Responden juga diwawancarai mengenai interaksi mereka dengan alam di masa kecil.

Misalnya, apakah mereka pernah melakukan pendakian di taman nasional atau bermain di taman belakang.

Setelah itu, peserta diminta melakukan tes psikologis, untuk menentukan perasaan gugup, depresi dan kelelahan dalam sebulan terakhir.

Hasilnya menunjukkan, peserta yang kurang berinteraksi dengan alam di masa kanak-kanak memiliki skor tes kesehatan mental yang lebih rendah.

Peserta dalam riset ini tampaknya mereka tidak terlalu menghabiskan banyak waktu di alam ketika masih kecil.

Jadi, hasil riset tersebut benar-benar terlepas dari berapa banyak waktu yang mereka habiskan dengan alam saat dewasa.

"Secara umum peserta dengan yang kurang berinteraksi dengan alam saat masa kecil juga memberi arti yang rendah untuk lingkungan alam," ucap peneliti lingkungan Myriam Preuss.

Sayangnya, penelitian hanya mengungkap korelasi bukan hubungan kasual.

Baca juga: Tak Hanya Fisik, Olahraga Juga Menyehatkan Mental

Para peserta pun hanya melaporkan pengalaman dengan alam di masa kecil secara retrospektif.

Artinya, laporan tersebut bisa saja menjadi bias karena terbatasnya ingatan mereka.

Menurut peneliti, masih diperlukan riset longitudinal yang secara objektif mengukur interaksi alam di masa kanak-kanak.

Peneliti juga memaparkan perlunya data kesehatan untuk menyelidiki hubungan antara aksesibilitas alam, waktu, dan kegiatan yang dihabiskan di alam selama masa kanak-kanak, dan kesehatan mental serta fisik selama masa hidup.

Riset nasional dari Denmark juga membuktikan, orang yang tinggal di daerah permukiman yang memiliki sedikit tanaman hijau berisiko lebih tinggi untuk mengalami gangguan kejiwaan di masa dewasa.

Riset lain dari AS juga menemukan kaitan antara ruang hijau di permukiman untuk anak-anak dan berkurangnya risiko depresi mereka di masa dewasa.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.