Kompas.com - 02/06/2019, 12:29 WIB

KOMPAS.com - Kehilangan pasangan hidup -baik suami maupun istri- pasti menjadi kenyataan yang sangat berat bagi semua orang.

Baik kematian tersebut terjadi karena peristiwa tiba-tiba, maupun karena sakit yang telah dialami dalam waktu panjang.

Suatu hari seseorang menikah. Namun, di saat yang sama, mereka juga harus siap jika suatu hari ditinggalkan oleh pasangan, dan kembali sendiri.

Pada situasi tersebut, kebanyakan orang merasakan emosi yang intens, perubahan gaya hidup dan perubahan hal-hal lain menyusul kenyataan itu.

Baca juga: Jarak Usia dalam Memilih Pasangan Hidup, Apa Pentingnya?

Tak sedikit yang meragukan masa depan mereka, karena merasa tak lagi memiliki semangat dalam menjalani hidup.

Seiring berjalannya waktu, rasa duka cita tersebut memang akan surut dan hidup yang baru pun bergulir.

Namun, banyak orang merasa, untuk tiba dalam momentum tersebut tidaklah mudah. Lalu, bagaimana caranya?

1. Jangan perberat diri sendiri

Tidak ada cara yang "tepat" untuk bereaksi terhadap situasi ketika ditinggal orang tercinta.

Ada banyak variabel yang berkontribusi terhadap reaksi tersebut.

Misalnya, berapa lama usia pernikahan, dan sebahagia apa jalannya pernikahan tersebut, hingga bagaimana cara pasangan meninggal.

Saat momentum itu tiba, rasa kaget, lumpuh, patah hati, dan juga bingung bakal menyeruak.

Tangisan sepanjang hari, atau pun tidak menangis sama sekali. Reaksi terhadap rasa duka cita berbeda pada setiap orang.

Baca juga: Ayah Tampan Ini Sukses Hentikan Tangisan Bayi dalam 3 Detik

Bersiaplah dengan keluarga atau kerabat yang mungkin tidak tahu apa yang harus mereka sampaikan lalu mengatakan kalimat klise, seperti "dia akan lebih bahagia di sana". 

Seringkali orang-orang yang bermaksud baik dan berniat meringankan pikiran, bingung untuk membicarakan kematian tersebut, namun bukan berarti mereka tidak peduli.

Yakinilah bahwa keluarga dan kerabat juga merasakan duka cita tersebut, dan perasaan itu mungkin saja reda jika berbagi memori tentang pasangan.

2. Rawat kesehatan fisik

 

Perasaan duka juga bisa membawa dampak fisik. Mereka yang berduka mungkin saja menjadi tidak nafsu makan atau sulit tidur.

Poin yang satu ini mungkin mudah diucapkan namun sulit dilakukan, tapi cobalah merawat diri dengan baik.

Seperti dengan tidak melewatkan makan, olahraga dan tidur cukup. Jangan biarkan diri larut dalam keterpurukan, dengan memperbanyak minum.

Baca juga: 5 Emosi Negatif yang Bisa Diubah Jadi Positif

3. Cari bantuan

Kehilangan orang tercinta bisa membuat mereka yang mengalaminya menjadi kesepian dan dilanda kebingungan yang amat kuat. Bahkan, tidak jarang mereka menjadi depresi.

Mereka mungkin saja akan kembali  ke dalam keterpurukan tersebut, namun akan lebih baik jika mencari dukungan dari keluarga, teman, komunitas agama, atau penasehat.

Bergabung dengan kelompok dukungan (support group) yang terdiri dari orang-orang yang juga berduka cita, bisa membuat rasa lebih nyaman.

4. Menyesuaikan kehidupan sosial

Menjalani kehidupan sosial sebagai seseorang yang berstatus 'single' bisa jadi sangat rumit bagi banyak orang.

Apalagi jika dia dan pasangannyaseringkali bersosialisasi dengan pasangan lainnya secara rutin.

Ketika pasangan tidak lagi ada, orang yang ditinggal agak sulit berbaur dengan kelompok itu lagi.

Mereka cenderung akan merasa aneh menghadiri pesta dan acara lainnya sendirian.

Namun, kuatkan diri dan katakan tentang niat menghindari pesta atau acara yang sifatnya berpasangan, serta lebih memilih acara yang bersifat individualis.

Meski begitu, menjadi single juga bisa menyediakan kesempatan bagi kamu untuk mendapatkan teman-teman baru.

Aktivitas semacam menjadi sukarelawan, atau mengikuti kelas-kelas bisa mendatangkan motivasi untuk lebih banyak beraktivitas di luar rumah, dan mengejar sesuatu yang berarti.

Baca juga: Emosi Negatif Juga Merusak Tubuh

5. Rasa duka yang rumit

Kehilangan pasangan akan mengubah hidup, dan merasakan duka mendalam adalah reaksi yang normal.

Terkadang, kesedihan ditinggal pasangan meninggalkan duka yang begitu mendalam sehingga mengganggu kemampuan untuk maju dan menghadapi hidup.

Ini diketahui sebagai rasa duka yang rumit. Beberapa gejalanya antara lain:

- Merasa tidak lagi punya tujuan hidup.

- Memiliki kesulitan menjalani aktivitas harian.

- Mengalami rasa bersalah terus menerus atau menyalahkan diri sendiri atas kematian pasangan.

- Berharap diri sendiri juga mati.

- Kehilangan keinginan untuk bersosialisasi.

Jika tak bisa membuang perasaan-perasaan ini, cobalah bicara dengan dokter atau terapis yang bisa memberimu saran pengobatan.

Pada intinya, kehilangan pasangan hidup memang sangatlah berat.

Namun, kondisi itu bisa menjadi titik awal  untuk kembali membuka lembaran baru dan memberikan makna hidup yang lebih mendalam untuk diri sendiri.

Tentu saja, sambil tetap mengenang indahnya memori yang telah diukir bersama pasangan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.