Pola Makan dan Olahraga, Agar Berat Badan Tak "Yo-yo" Saat Lebaran

Kompas.com - 05/06/2019, 06:06 WIB
IlustrasiShutterstock Ilustrasi

KOMPAS.com - Tak sedikit orang yang mengalami pelonjakan berat badan di hari raya karena terlalu kalap menyantap makanan lebaran.

Apalagi, pada momentum lebaran seringkali kita gencar bersilahturahmi ke kediaman kerabat yang tak lepas dari acara makan-makan. Kenaikan berat badan pun tak terhindarkan.

Namun, ada beberapa trik yang bisa dilakukan agar berat badan kita tetap stabil di hari lebaran. Tak hanya menjaga pola makan, kita perlu juga mengatur pola olahraga sederhana untuk menjaga tubuh tetap aktif.

Pola makan anti "yo-yo"

Ketika berkunjung ke rumah kerabat di hari lebaran, seringkali kita ditawarkan makanan dan cemilan. Menolak tawaran makan seringkali bukan pilihan yang baik. Oleh karena itu, menjaga porsi makan bisa menjadi solusinya.

"Makan jangan sampai kenyang banget, sampai tidak bisa bergerak. Jangan. Makan cukup, lalu aktivitas dulu," kata HR Director sekaligus instruktur Paradigm Fitness Indonesia, Jehan Islianur di Jakarta beberapa waktu lalu.

Selain itu, Jehan menyarankan agar kita membatasi jam makan. Misalnya, makan hanya hingga Pukul 18.00. Ini dilakukan untuk membatasi asupan makanan agar tidak terlalu berlebihan.

"Jangan sampai sudah lose weight di bulan puasa tapi naiknya kembali lebih banyak," ujarnya.

Jika merasa lapar di atas pukul 18.00, pilihlah makanan ringan dan sehat, misalnya salad. Jika memungkinkan, atur pula batas awal makan, misalnya Pukul 11.00. Di sela jadwal tersebut, kita tetap bisa mengkonsumsi air putih dan minuman tak berkalori.

"Teh, kopi tanpa gula boleh," tuturnya.

Pola olahraga sederhana

Di samping mengatur pola makan, baik pula untuk mengatur pola olahraga. Misalnya, lakukan jogging singkat saat perut masih dalam keadaan kosong.

Kedua, lakukan olahraga ringan seperti peregangan, latihan bodyweight seperti push up, squat, lunge, dan olahraga ringan lainnya sebanyak 15 repetisi dan 3 set.

Jika masih terasa berat, kamu bisa mengatur jadwalnya. Misalnya, melakukan dua jenis olahraga tersebut secara berselang-seling.

"Misalnya, kalau sudah lari atau jogging berarti body weight tidak usah. Tapi kalau body weight workout sudah, tidak usah lari. Bisa diselang-seling," kata Jehan.



Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Close Ads X