Trik Mengurangi Ketagihan Makanan Cepat Saji

Kompas.com - 16/06/2019, 09:00 WIB
IlustrasiThinkstockphotos Ilustrasi

KOMPAS.com - Walau kita sudah tahu bahaya terlalu sering mengonsumsi makanan cepat saji, namun sulit rasanya menolak godaan makanan ini. Selain enak dan praktis, harganya juga ramah di kantong.

Makanan cepat saji sebenarnya tidak mengandung nutrisi yang penting dan tinggi asupan gula, garam, dan lemak. Itu sebabnya, kita perlu mengerem keinginan mengasup fast food.

Dokter syaraf Peter Hall, Ph.D. dari University of Waterloo dan Nicole Avena, Ph.D. dari Mount Sinai Health System berbagi tips mengurangi ketagihan makanan cepat saji.

1. Ngidam berat

Wangi kentang goreng atau gorengan ayam mungkin akan kita rasakan ketika melewati restoran atau gerai makanan cepat saji.

Rangsangan rasa tersebut akan mengarah ke otak dan mengambil memori-memori dari hipokampus dan memindahkannya ke memori kerja. Dopamin atau zat kimia yang menggugah rasa kesenangan dan opioid kemudian mulai mengganggu area otak kita agar kita mencari sesuatu yang menyenangkan bagi diri kita.

Cara memeranginya: cobalah mengalihkan perhatian dengan jalan cepat atau memainkan game visual yang merangsang memori kerja, misalnya Tetris.

2. Nafsu

Area otak orbitofrontal corteks mengevaluasi memori, rasa dan pengalaman baru kita untuk menentukan seberapa baik keputusan kita untuk mengkonsumsi suatu makanan.

Dorongan untuk mengulangi pengalaman senang di masa lalu tumbuh semakin kuat dan berubah menjadi dorongan fisik, menyalakan sistem syaraf otonom kita.

Cara memeranginya: hindari dorongan tersebut dengan membuat batasan antara diri kita dan nafsu. Misalnya, jika rasa nafsu terhadap mi instan atau pun ayam goreng sering menghampiri kita ketika melewati restoran, maka hindari rute tersebut.

Baca juga: Hobi Ngemil Bisa Menurunkan Kekebalan Tubuh

3. Kebangkitan kembali 'ngidam' makanan cepat saji

Area otak dorsolateral prefrontal cortex, yang terletak di bagian depan kepala, menentukan faktor konsekuensi jangka panjang dari suatu tindakan yang kita lakukan, norma sosial dan motif lainnya untuk menahan diri dari nafsu makanan cepat saji.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X