Tips Singkirkan "Dad Bod" bagi Para Pria

Kompas.com - 17/06/2019, 15:15 WIB
ilustrasi ayah dan bayijacoblund ilustrasi ayah dan bayi

KOMPAS.com - Menjadi seorang ayah merupakan fase hidup penuh warna dan kebahagiaan baru bagi seorang pria.

Namun, momen itu biasanya juga diwarnai oleh penambahan berat badan, terutama di area perut.

Menurut dokter pengobatan keluarga, Dan Allan MD, lemak di area perut tak hanya mendatangkan masalah pada penampilan, tetapi juga berpotensi menimbulkan masalah kesehatan.

Menurutnya, penambahan berat badan di area perut berisiko pada diabetes dan sindrom metabolik.

“Ini akan meningkatkan trigliserida, gula darah, dan peradangan di tubuh. Itu juga dikaitkan dengan perubahan hormon," ucapnya.

Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

Perhatikan pola makan. Hindari konsumsi karbohidrat berlebihan dan makanan olahan serta minuman dengan pemanis tambahan.

Menurut dr Allan, semua cara tersebut membantu menghindari kenaikan berat badan. Alkohol juga berperan penting dalam pembentukan lemak di area perut atau "Dad Bod".

“Alkohol langsung mempengaruhi area tengah tubuh dan berubah menjadi lemak visceral, yang menciptakan peradangan dan menyebabkan efek kesehatan yang negatif,” kata dr. Allan.

Menurutnya, banyak orang sulit melepas kebiasaan konsumsi alkohol. Padahal alkohol mengandung kalori yang buruk bagi kesehatan.

Baca juga: Ayah Pun Bisa Menyusui Bayinya...

Para ayah juga harus lebih banyak berolahraga. Tak perlu pergi ke gym, aktivitas fisik apapun yang mengundang keringat atau meningkatkan detak jantung akan membantu menangkal kenaikan berat badan.

Untuk para pria yang baru saja menjadi ayah, dr. Allan mengatakan pentingnya bersikap realistis.

Tak masalah jika memberi waktu untuk beristirahat dari rutinitas olahraga sesekali. Namun, jangan beristirahat terlalu lama.

Segera luangkan waktu untuk kembali berolahraga karena semakin banyak waktu yang disia-siakan akan semakin susah menurunkan berat badan.

dr Allan mengatakan, kehidupan nyata yang dipenuhi kesibukan memang membuat kita tak mudah untuk konsisten diet dan berolahraga.

“Benar-benar ada periode hidup di mana waktu terasa begitu cepat dan itu tidak masalah. Namun kamu tidak ingin penundaan olahraga satu minggu berubah menjadi bulan, berubah menjadi satu tahun, berubah menjadi waktu yang lama," tambahnya.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X