Kompas.com - 24/06/2019, 06:00 WIB

KOMPAS.com - Masih teringat jelas momen ketika Presiden ke-44 Amerika Serikat, Barack Obama, berlibur bersama keluarganya di Bali tahun 2017 lalu.

Saat itu, salah satu tempat yang dikunjunginya adalah Agung Rai Museum of Art (ARMA) di Ubud.

Jika berkesempatan mengunjungi ARMA, kamu mungkin akan menyadari bahwa tempat ini lebih dari sekadar museum.

ARMA diresmikan 9 Juni 1996 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro.

Memasuki area museum lewat gerbang barat, kita akan disambut oleh hawa sejuk, berkat tanaman-tanaman rindang yang mengisi setiap museum.

Setelah melangkah masuk, kita akan menemukan panggung terbuka yang biasa digunakan untuk pertunjukan seni.

Baca juga: Museum Trinil Ngawi Teliti Fosil Kaki Gajah Purba yang Ditemukan Warga

Gedung-gedung yang ada di area museum didesain dengan gaya arsitektur tradisional Bali dengan dominasi material lokal.

Dua gedung utamanya, Bale Daja, seluas 3.300 meter persegi, dan Bale Dauh seluas 1.200 meter persegi, berdiri kokoh di tengah pepohonan, air mancur, dan kolam serta landskap sawah.

Pemandangan ini membawa suasana alam yang kian kental.

ARMA bukan hanya sebuah museum, melainkan pusat seni dan pertunjukan.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.