Kompas.com - 24/06/2019, 06:00 WIB

"Setahun sekali mungkin 20 persen (dirotasi), tidak semuanya," kata pria kelahiran 17 Juli 1955 itu.

Baca juga: Ulang Tahun Jakarta, Masuk Museum dan Objek Wisata Ini Gratis!

Semua karya seni yang dipajang di ARMA adalah koleksi pribadi Agung Rai yang dikumpulkannya tak hanya dari dalam negeri, namun juga dari berbagai negara di dunia.

Karya-karya tersebut dibuat oleh orang Indonesia di zaman dulu, kemudian dijual kepada pembeli asing.

Agung Rai kemudian membelinya kembali untuk kemudian dipajang di ARMA.

Kebanyakan karya diperolehnya dari hasil berkeliling ke Eropa dan New York, Amerika Serikat.

Menurut dia, orang Indonesia saat ini masih kurang mengapresiasi karya seni sehingga karya-karya seniman hebat Tanah Air justru banyak disimpan oleh orang asing.

Kalaupun ada di Tanah Air, kata dia, karya-karya tersebut cenderung digudangkan.

Hal ini misalnya terlihat dari minimnya antusiasme masyarakat Indonesia untuk mengunjungi museum.

Kondisi ini berbeda dari kebanyakan masyarakat asing yang terbiasa pergi ke museum, karena kebiasaan itu ditumbuhkan sejak kecil.

Padahal, kata Agung Rai, di seluruh Indonesia terdapat lebih dari 400 museum yang bisa dikunjungi.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.