Kompas.com - 28/06/2019, 11:45 WIB

KOMPAS.com - Perceraian orang lain, termasuk tokoh figur publik, kadang membuat kita bertanya-tanya apakah yang harus kita lakukan jika menemui situasi serupa.

Ada banyak alasan bagi pasangan untuk mengakhiri hubungan pernikahan.

Mulai dari kurangnya komitmen antar-pasangan, kepuasan terhadap diri sendiri, komunikasi yang buruk, hingga ketidakcocokan.

Namun, saran terbaik seringkali datang dari mereka yang sudah pernah mengalami perceraian.

Baca juga: Penemuan yang Mengubah Dunia: Perceraian, Dulu Tabu Kini Umum Terjadi

Natalia Juarez, seorang pakar perceraian dan hubungan, adalah pemilik dan pendiri Lovistics. Ia membantu para pria dan wanita pulih dari putus cinta dan kembali ke dunia kencan.

Ia sudah melihat banyak hal tentang hubungan dan mencoba memberi saran bagi para pasangan untuk mencegah pernikahan mereka mengalami kehancuran.

Ada beberapa hal yang perlu kamu perhatikan untuk menghindari keretakan rumah tangga.

1. Jangan abaikan tanda-tanda

Jangan abaikan jika ada tanda-tanda jelas dari sebuah masalah.  Misalnya, saling menyalahkan, marah, atau ada masalah komitmen.

"Sebab kita semua menginginkan hubungan yang sehat. Sehingga pencegahan dini adalah kunci memiliki hubungan yang terjaga dan sehat."

"Jika sejak awal hubungan tak berjalan dengan baik, maka ke depannya juga tidak akan bekerja," kata Juarez.

2. Mengomunikasikan masalah

Kehidupan setelah pernikahan bisa terlihat sangat berbeda beberapa tahun ke depan.

Misalnya, kamu bisa saja pindah kerja. Kamu mungkin juga memutuskan memiliki anak dan mertuamu ikut merawatnya. Situasi keuangan juga bisa berubah sangat drastis.

Mendiskusikan bersama pasangan tentang hal-hal tersebut bisa membantu kamu mengetahui apakah kalian memiliki pandangan yang sama.

Juarez mengatakan, langkah ini juga akan membuatmu dan pasangan lebih memersiapkan diri dari tantangan masa depan serta memiliki solusi "win-win" jika menghadapi ketidaksepakatan.

Menurut dia, pasangan harus berkomitmen untuk berkomunikasi secara efektif tentang segala hal.

Kita mungkin berpikir diri kita bukan komunikator yang baik, namun ingatlah banyak orang yang mengalami hal sama.

"Tidak ada alasan. Bagaimana pun, komunikasi yang baik adalah skill jangka panjang yang bisa dibangun dan seperti otot, semakin kita menggunakannya maka akan semakin kuat," kata Juarez.

3. Mendatangi konseling hubungan sejak dini

Banyak pasangan berpikir mencari bantuan ke konseling adalah hal terakhir dalam hubungan mereka sebelum benar-benar berakhir dengan perceraian.

"Pada banyak kasus, akan sangat sulit memperbaiki sesuatu karena sudah berjalan terlalu jauh," kata dia.

Setiap hubungan, terutama hubungan intim pernikahan, membutuhkan kesadaran diri, kecerdasan emosional dan skill komunikasi.

Memanfaatkan konseling sebagai sarana untuk mempelajari kemampuan-kemmpun tersebut bisa membantu hubungan agar tetap kuat dan sehat.

4. Menikahi seseorang yang bisa membayangkan "perceraian damai"

Ini mungkin terdengar seperti ide yang tidak biasa. Namun Juarez mengatakan, menyampaikan statistik perceraian bisa menjadi tes awal bagi hubunganmu.

"Selain karakter orang yang kita nikahi, keadaan perceraian menjadi hal yang juga penting," kata Juarez.

Ia mencontohkan, jika kita menceraikan seseorang untuk bersama selingkuhan kita, kita mungkin akan melihat sisi lain dari mantan pasangan kita.

Pastikan kita mempercayai dan menghormati orang yang kita nikahi.

"Perceraian membutuhkan banyak waktu dan hal emosional untuk dikorbankan."

"Namun, jika kedua belah pihak sudah berkomitmen untuk menjalaninya secara baik-baik, maka itu mungkin untuk dijalani," ujar dia.

5. Menyadari hubungan adalah sesuatu yang kompleks

"Aku sangat menghargai orang-orang yang memperlakukan hubungan mereka seperti karir mereka," kata Juarez.

Pada saat yang sama, kita dituntut untuk terus berkembang secars profesional, kita juga harus berinvestasi dalam hal keterampilan membina hubungan.

Apakah itu berupa buku, mendatangi pelatih atau terapis, serta beberapa cara untuk membentuk skill tersebut.

Juarez juga menyarankan untuk menjawab pertanyaan: apakah kamu dan pasangan berperan sebagai mitra sejati atau lawan dalam hubungan.

Sebab selain rasa mencintai yang kuat, pasangan yang menikah harus mempercayai dan menghormati satu sama lain.

Juga, sepenuh hati berkomitmen untuk hubungan tersebut, memiliki komunikasi yang efektif dan satu frekuensi, serta realistis tentang hal-hal yang mereka tidak cocok.

"Ini termasuk kepribadian, tujuan hidup, hal-hal seksual, dan lainnya."

"Aku tahu ini seperti terlalu banyak, tapi ini penting untuk membuat hubungan tidak hanya bertahan tapi juga memuaskan," kata Juarez.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.