Kompas.com - 12/07/2019, 17:05 WIB

 

7. Iming-iming kupon palsu

Kupon belanja mungkin nampak seperti alternatif penghematan. Namun, semua itu hanyalah iklan, yang terkadang juga tersedia untuk opsi termahal.

Sebuah studi belanja NYU tahun 2003 menemukan, pelanggan dengan kupon akhirnya menghabiskan rata-rata 228 dollar AS atau Rp 32.000 untuk sebuah item, sedangkan mereka yang tidak memiliki kupon memilih produk yang lebih murah rata-rata 2,07dollar AS atau Rp 29.000.

Menerut peneliti, pembelian produk mahal kemungkinan meningkat, ketika tersedia kupon penjualan untuk produk mahal.

8. Permainan kata-kata dalam diskon

Diskon selalu menggiurkan dan menarik banyak orang untuk membeli produk diskon tersebut. Padahal, harga produk saat tidak ada momen diskon pun sebenarnya tidak jauh berbeda.

Menurut analis riset Amy Noblin, cara mempromosikan diskon juga memengaruhi pembelian. Misalnya, barang yang didiskon dengan sistem "beli satu, diskon 50 persen" tentu terlihat lebih menggiurkan ketimbang "diskon 25 persen untuk semua item".

Baca juga: Fitur Baru Instagram Bisa Memperburuk Hobi Belanja

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.