Kompas.com - 17/07/2019, 11:03 WIB
|
Editor Wisnubrata

Itulah mengapa, identifikasi risiko henti jantung sebelum olahraga sangatlah penting.

Menurut ulasan tersebut, ada beberapa tanda yang bisa kamu perhatikan.

  • Nafas memendek secara tiba-tiba selama olahraga.
  • Dada sesak.
  • Adanya tekanan, nyeri atau rasa tidak nyaman ketika olahraga berlangsung.
  • Hilang kesadaran, terutama di tengah olahraga.
  • Jantung berdebar hebat dan tak terduga, atau sensasi tidak enak dan detak jantung kencang pada kondisi yang tidak seharusnya.
  • Pusing hebat dan nyaris pingsan secara mendadak.

Jika kamu mengalamu beberapa gejala ini, terutama ketika sedang berolahraga, hubungilah dokter untuk mendapatkan bantuan medis.

Dokter biasanya akan menanyakan riwayat medis kita dan keluarga kita dan jika diindikasikan perlu, kita akan menjalani serangkaian tes seperti elektrokardiografi dan diminta membatasi olahraga.

Henti jantung adalah masalah serius yang mematikan. Meski begitu, belum ada bukti kuat untuk mendukung perlunya screening bagi para atlet yang berada dalam kondisi sehat.

Terutama karena indikasi "positif" yang belum tentu tepat justru bisa membuat pasien cemas meskipun sebenarnya tidak berisiko.

Baca juga: Tips Olahraga yang Efektif untuk Menyehatkan Jantung

Meski begitu, para peneliti menyarankan agar para dokter bertanya secara rutin kepada semua atlet, pertanyaan seperti: "pernahkah merasakan pusing hebat atau pingsan, nafas memendek secara tiba-tiba, atau nyeri dada setelah olahraga?" dan "apakah kamu memiliki keluarga dengan riwayat kematian mendadak atau penyakit jantung parah di bawah usia 60 tahun?".

Dokter mungkin membutuhkan tes lebih jauh bergantung pada jawaban pasien atas dua pertanyaan tersebut.

Untuk mencegah munculnya semakin banyak kasus kematian atlet karena henti jantung, para peneliti menyarankan agar tempat publik yang digunakan untuk menyelenggarakan acara olahraga memiliki Automated External Defibrillators (AED).

Alat ini akan menghantarkan kejut listrik melalui dada menuju jantung, berpotensi menghentikan denyut jantung yang tidak normal kemudian mengembalikannya lagi ke ritme normal. Biasanya, pada kasus dimana AED digunakan, rasio penderita yang selamat lebih tinggi.

Contohnya, pada satu aktivitas maraton di Jepang, paramedik bersepeda membawa AED di ransel mereka dan berjaga dekat dengan garis akhir, siap untuk menyediakan pertolongan segera.

Dalam sebuah studi yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine, para peneliti menemukan bahwa 28 dari 30 orang pelari yang mengalami henti jantung sukses ditangani hingga sadar, rasionya mencapai 93 persen.

"Jika henti jantung terjadi, mereka bisa mengatasi dengan sangat segera," kata Dorian.

 Baca juga: Faktor yang Membuat Penyakit Jantung Makin Sering Dialami Orang Muda

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.