Tren Tinggalkan Sedotan Plastik, Seberapa Besar Kontribusinya untuk Lingkungan?

Kompas.com - 24/07/2019, 09:51 WIB
Ilustrasi sedotan logam. SHUTTERSTOCKIlustrasi sedotan logam.

JAKARTA, KOMPAS.com – Gaya hidup ramah lingkungan kian menjadi tren. Salah satu persoalan lingkungan yang menjadi sorotan adalah penumpukan sampah plastik. Tak hanya di Indonesia, tetapi juga dunia.

Langkah yang dilakukan salah satunya adalah mengubah kebiasaan menggunakan barang sekali pakai berbahan dasar plastik ke bahan dasar lainnya yang dinilai lebih ramah lingkungan.

Belakangan, yang menjadi tren adalah penggunaan sedotan berbahan non plastik. Banyak yang memilih tak lagi menggunakan sedotan plastik sekali pakai.

Pilihannya, bisa sedotan berbahan logam, kayu, maupun bambu.

Seberapa besar kontribusi yang diberikan bagi lingkungan dari peralihan penggunaan sedotan plastik ke sedotan non plastik?

Baca juga: Tidak Akan Ada Lagi Sedotan dan Kantong Plastik di Kanada

Penggunaan yang bijaksana

Manajer Kampanye Perkotaan dan Energi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Dwi Sawung menilai, apa pun bahannya, selama digunakan dengan bijaksana, maka akan berdampak baik untuk lingkungan.

“Bukan di jenis sedotannya. Tapi kalau kita bandingkan antara sedotan besi dengan plastik, sedotan besi yang dipakai berulang-ulang, ya lebih baik sedotan besi daripada sedotan plastik yang sekali pakai,” kata Dwi saat dihubungi Kompas.com, Jumat (19/7/2019).

Meski demikian, ia mengakui, maraknya penggunaan sedotan besi/logam juga membawa dampak terkait pertambangan.

Akan tetapi, dampaknya tidak sebesar dampak yang ditimbulkan oleh limbah sedotan plastik.

“Punya dampak lingkungan, cuma enggak sebesar plastik. Walaupun ada pertambangan besi, ada peleburannya, cuma kan dia berkali-kali dipakai dan bisa terurai. Kemudian bisa didaur ulang juga,” jelas Dwi.

Baca juga: Sampah Sedotan Per Hari Jika Dijejerkan Bisa dari Jakarta-Meksiko

Hal senada juga disampaikan oleh Juru Kampanye Urban Green Peace Indonesia Muharram Atha Rasyadi.

“Yang menjadi catatan adalah bagaimana masyarakat mulai dapat secara perlahan meninggalkan ketergantungan pada plastik sekali pakai dan beralih kepada penggunaan kembali. Mindset untuk mulai meninggalkan plastik sekali pakai yang menjadi perhatian dalam hal ini,” kata Atha, saat dihubungi secara terpisah.

Sedotan besi, bambu, kertas, atau yang lainnya, tidak membawa dampak serius bagi lingkungan karena bisa dipakai berulang kali dan mudah diurai kembali.

"Sebenarnya ini kan langkah awal mengurangi plastik. Kalau ada yang paling mudah itu lah sedotan,” kata Dwi Sawung.

“Bagus, tapi mereka harus meningkat ke yang lain sih. Tapi sekarang saya lihat udah meningkat bukan sekadar sedotan ya, sudah botol, kantong, sudah banyak,” lanjut dia.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X