DR. dr. Tan Shot Yen, M.hum
Dokter

Dokter, ahli nutrisi, magister filsafat, dan penulis buku.

Ketika Menyusui Hanya Sekedar Memberi ASI

Kompas.com - 26/07/2019, 07:45 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KOMPAS.com - Bukan suatu kebetulan jika rangkaian peringatan hari anak nasional diikuti oleh Pekan Menyusui Sedunia di awal bulan Agustus.

Sayang sekali, jika hak anak dipahami sebatas sandang, pangan, papan yang miskin makna.

Saat seorang ibu selama sembilan bulan dua minggu mengandung berusaha keras memenuhi kebutuhan gizi dirinya maupun bayinya, rangkaian ini mestinya tidak boleh terputus begitu sang bayi lahir, sebab seribu hari pertama si bayi baru lewat hampir sepertiganya saja.

Seribu hari kehidupan manusia yang merupakan tiang fondasi sekian puluh tahun ke depan yang akan dilaluinya di dunia.

World Health Assembly mencanangkan target dunia untuk menyusui ekslusif dengan angka 50% di tahun 2025.

Saat ini, Indonesia masih berada di angka 41%. Tapi jangan keburu bangga mengandaikan kita siap kejar mencapai 50% dalam 6 tahun ke depan. Angka 41% itu adalah cakupan pemberian Air Susu Ibu eksklusif, bukan “menyusu” ekslusif!

Padahal pemahaman asli dari istilah exclusive breastfeeding adalah tentang bayi yang langsung menyusu pada payudara ibunya. Bukan exclusive breastmilk.

Baca juga: Literasi dan Edukasi: Meminimalkan Medikalisasi

Entah salah paham ini dimulai kapan dan oleh siapa, sehingga rentetan kekacauannya semakin ruwet.

Mulai dari ibu-ibu yang bangga memompa air susunya, mengumpulkan berbotol-botol dan berkantung-kantung ASI perahan, kemudian memamerkannya di Instagram.

Bagi yang sungguh memahami soal pemberian makan bayi dan anak, ini amat mengerikan dan mencengangkan.

Bagi yang punya bisnis perabotan perah susu ibu, tentu amat menyenangkan. Dan masalah baru muncul.

Mulai dari pertanyaan sampai kapan ASI perah bisa bertahan, baik di suhu ruangan, pendingin biasa atau kondisi beku. Hingga akhirnya soal bank ASI pun menyeruak – menjadi tantangan sementara kita belum siap dengan aturan.

Baca juga: Membiasakan yang Tidak Biasa

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.