Kompas.com - 01/08/2019, 21:05 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi

JAKARTA, KOMPAS.com - Banyak orang mungkin masih menganggap penyakit sendi hanya dialami oleh orang-orang usia lanjut. Padahal, penyakit tersebut kini mulai menyerang usia produktif.

Data Riset Kesehatan Dasar 2018 mencatat, prevalensi penyakit sendi di Indonesia mencapai 7,3 persen dan osteoarthritis (OA) atau radang sendi adalah penyakit sendi yang umum terjadi.

"Dulu penyakit ini kena di usia 60 tahunan, lalu bergeser ke 50 tahunan dan sekarang trennya sudah di usia 30 tahunan," kata Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, dr. Deasy Erika, Sp. KFR dalam peluncuran kampanye terbaru Jointfit di Pacific Place, Jakarta Selatan, Kamis (1/8/2019).

Deasy mencontohkan beberapa pasien OA termuda yang ditanganinya. Pasien OA termudanya yang tidak memiliki latar belakang atlet berusia 35 tahun, sementara yang berlatar belakang atlet berusia 25 tahun.

Baca juga: Penyakit Tersembunyi yang Bisa Memicu Gejala Nyeri Sendi

Sementara berdasarkan data Riskesdas, prevalensi masyarakat berusia 15-24 tahun yang mengalami penyakit sendi mencapai 1,3 persen dan usia 24-35 tahun mencapai 3,1 persen.

"Ini menjadi concern, karena jika dibiarkan bisa menyebabkan kecacatan," tuturnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Deasy menambahkan, kecacatan saat ini tidak terbatas pada cacat fisik melainkan ketika seseorang sudah tidak mampu melakukan yang diinginkannya dan sebelumnya bisa dilakukan.

"Jika biasanya mampu pergi kemana-mana, jalan 500 meter mampu, sekarang 100 meter saja tidak mampu. Artinya sudah ada hambatan dalam melakukan aktivitas," kata dia.

OA sendiri bisa terjadi di semua sendi, namun paling sering terjadi pada lutut, pinggang dan leher. Area tubuh lainnya yang juga berisiko mengalami OA adalah bahu, siku, tangan, dan telapak kaki.

Baca juga: Hindari Makanan Berminyak Saat Nyeri Sendi

Beberapa gejala yang mungkin terjadi antara lain nyeri lutut dan sendi kaku dalam kurang dari 30 menit di pagi hari, area tubuh tertentu bengkak setelah digerakkan, otot betis mengecil, dan krepitasi.

Jika kamu mengalaminya, beberapa langkah yang bisa kamu lakukan sebagai pertolongan pertama adalah beristirahat.

Namun, jika rasa sakit disertai inflamasi yang terasa sangat panas, cobalah mengompresnya dengan es.

"Kalau cuma nyeri istirahat, kompres hangat, minum alagetik, gunakan suplemen glukosamin dalam bentuk roller gel," ucapnya.

Untuk menghindari OA, usahakan kita tetap aktif bergerak untuk menurunkan risiko kelebihan berat badan. Sebab kelebihan berat badan merupakan salah satu faktor penyebab OA.

Lalu, usahakan menerapkan pola hidup sehat, tidur cukup dan menghindari makanan manis berlebihan.

"Hindari beberapa gerakan seperti menekuk kaki terlalu sering dan dalam waktu lama, itu kalau untuk lutut. Juga hindari postur tubuh yang membungkuk ketika duduk," kata Deasy.

Baca juga: Sendi Sering Kaku pada Pagi Hari, Waspadai Pengapuran Sendi

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.