Kompas.com - 07/08/2019, 21:28 WIB
Suasana gedung bertingkat yang terlihat samar karena kabut polusi di Jakarta Pusat, Senin (8/7/2019). Kualitas udara di DKI Jakarta memburuk pada tahun ini dibandingkan tahun 2018. Prediksi ini berdasarkan pengukuran PM 2,5 atau partikel halus di udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron (mikrometer). KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGSuasana gedung bertingkat yang terlihat samar karena kabut polusi di Jakarta Pusat, Senin (8/7/2019). Kualitas udara di DKI Jakarta memburuk pada tahun ini dibandingkan tahun 2018. Prediksi ini berdasarkan pengukuran PM 2,5 atau partikel halus di udara yang berukuran lebih kecil dari 2,5 mikron (mikrometer).

KOMPAS.com - Merasa indra penciumanmu berkurang ketajamannya? Hati-hati, bisa jadi kamu sudah mengalami efek dari paparan kualitas udara yang buruk, yang mana hal tersebut bisa meningkatkan risiko penyakit neurologis, seperti Parkinson dan Alzheimer.

Demikian menurut sebuah studi baru yag diterbitkan dalam jurnal eLife. Temuan terbaru mendukung hasil penelitian sebelumnya, yang menunjukkan berkurangnya kemampuan indra penciuman bisa menjadi tanda awal dari perkembangan kondisi neurologis.

Para peneliti dari Universitas Penn State mempelajari bagaimana polusi memicu perkembangan penyakit melalui udara yang kita hirup.

Studi terbaru berfokus pada hubungan antara kualitas udara yang buruk dan aliran cairan cerebropinal dalam tubuh.

Baca juga: Jangan Olahraga di Luar Ruangan Saat Polusi Udara Tinggi

Cairan ini biasanya muncul di sekitar sistem saraf pusat, yang meliputi otak dan sumsum tulang belakang.

Studi sebelumnya menunjukkan, bahwa flow of cerebrospinal fluid (CSF) atau aliran cairan serebrospinal berfungsi sebagai "bantalan" yang melindungi sistem.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Studi Penn State menunjukkan, bahwa cairan itu juga membantu aliran limbah keluar dari otak dan area tulang belakang, menurut Patrick Drew, penulis studi dan profesor di Penn State.

"Kami melihat CSF membantu mengeluarkan limbah melalui hidung," katanya.

"Saya mencoba memberi cairan serebrospinal dengan pewarna untuk percoban lain," ujar Jordan Norwood, penulis studi dan mahasiswa pascasarjana di Penn State.

"Kami melihat cairan serebrospinal yang diwarnai ini mengalir keluar melalui hidung," lanjutnya.

Baca juga: 6 Tips Cegah Efek Buruk Polusi Udara pada Anak

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.