Fortifikasi Pangan Bantu Atasi Gizi Kurang

Kompas.com - 14/08/2019, 09:00 WIB
Ilustrasi tepung terigu TimmaryIlustrasi tepung terigu

KOMPAS.com – Hingga hari ini Indonesia masih menghadapi masalah kekurangan gizi mikro seperti zat besi, asam folat, atau vitamin A. Hal ini perlu diintervensi karena berdampak pada kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Persoalan gizi memang rawan mengintai masyarakat yang kurang mampu sehingga memicu rawan gizi.

“Kemiskinan menjadi faktor utama penyebab masalah gizi ini. Karena miskin, tidak semua lapisan masyarakat bisa mendapat makanan sehat dengan mudah,” kata Prof.Purwiyatno, Ketua Pusat Pangan SEAFAST IPB, dalam acara Asian Congress of Nutrition 2019 di Bali beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan, fortifikasi pangan atau penambahan zat gizi tertentu ke dalam makanan dapat membantu masyarakat terhindar dari kekurangan gizi.

“Sehingga lebih mudah dijangkau masyarakat. Vitamin A misalnya, lazim dimasukkan ke produk margarin dan minyak goreng. Sementara yodium dimasukkan ke dalam garam,” katanya.

Minyak goreng, garam, dan juga margarin, merupakan bahan pangan yang banyak dikonsumsi masyarakat. Program fortifikasi pertama kali dilakukan pada tahun 1994 berupa penambahan yodium pada garam.

Baca juga: Jalan Panjang Upaya Menangkal Anemia pada Remaja Putri Indonesia

Dunia usaha

Semua pihak seharusnya juga berkontribusi dalam pengentasan gizi kurang. Selain pemerintah, peran industri makanan juga penting dalam membantu menyediakan makanan yang baik dan bergizi.

Ditambahkan oleh Direktur PT.Indofood Sukses Makmur, Tbk, Axton Salim, dunia usaha memiliki peran dalam mengatasi malnutrisi antara lain dengan menciptakan makanan yang difortifikasi.

“Juga dengan menggunakan bahan pangan lokal dengan biaya produksi yang tidak mahal sehingga bisa dijual dengan harga terjangkau ke masyarakat,” katanya dalam acara yang sama.

Ia mencontohkan produk tepung terigu yang sudah ditambahkan vitamin B dan zat besi, atau makanan pendamping ASi yang difortifikasi dengan aneka sumber gizi mikro.

Menurut Purwiyatno, selain sehat, yang tidak kalah penting adalah keamanan pangan.

“Pangan yang dianggap sehat jika tidak aman menjadi tidak berarti. Oleh karena itu makanan harus diupayakan aman, karena jika terdapat kontaminan makanan itu tidak dapat dimanfaatkan tubuh karena bisa menimbulkan penyakit,” katanya.

Baca juga: Bahaya Stunting Ketika Berat Badan Bayi Terus Turun

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X